BPJS KETENAGAKERJAAN


Harga Listrik Melangit Buat Rakyat Tercekik

Oleh: Iis Nur

Di saat mayrakat sedang di landa kekeringan, kebakaran, harga barang kebutuhan pokok melanbung tinggi harganya, lapangan kerja yang semakin susah. Semua itu mengakibatkan semakin tercekiknya rakyat, pemerintah menambah kepedihannya dengan naiknya tarif listrik dan itu di lakukan diam-diam. Bagai luka yang menganga malah ditabur dengan garam. 

Indonesia yang terkenal sebagai negara kaya raya dengan segala potensi yang dimilikinya. Sumber energi yang melimpah ruah sebagai karunia dari Allah SWT. Namun sayang sumber energi yang seharusnya bisa dinikmati dan digunakan untuk bisa mensejahterakan rakyat, kenyataannya sumber energi tersebut malah menjadi beban untuk rakyat terutama rakyat kecil.

Beberapa waktubyang lalu PLN pada tanggal 12 Juli 2019 melaksanakan seremoni operasi komersial gelar Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamandala, Cianjur. Yang dibuka oleh Direktur Aneka Energi Barubdan Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Harris, menggelar Ceremony Commercial Operation PLTA Rajamandala.

Harris menyebutkan potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 70 ribu MW namun sampai sekarang energi tersebut hanya bisa dimanfaatkan baru 9 ribu MW. PLTA Rajamandala 47MW merupakan program pembangkit energi EBT sesuai dengan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2019-2028. PLTA beroperasi sejak Mei 2019. Diharapkan dapat menambah pasokan listrik jaringan Jawa, Bali dan Madura.

Menurut para Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) Departemen ESDM menunjukkan Rasio Elektrifiksi 80,1% saat ini baru 14 propinsi di indonesi telah memiliki rasio eletrifikasi 41,60% dan sisanya sebanyak 5 provinsi masih memiliki rasio electrifikasi 20-40%.

Dengan di jadikannya PLTA Rajamandala secara komersial yang bisa di kuasai oleh pihak swasta, ini akan terasa makin sulit dirasakan oleh rakyat kecil karena hampir tiap tahu TTL terus dinaikan dan ini sangat merugikan rakyat, baik itu rakyat umum maupun dunia industri. Kerugian yang di derita masyarakat meliputi materi (kerusakan pada alat-alat elektronik, terhentinya usaha kecilnseperti jasa potokopi, sablon dst), kebakaran dan merogoh kantong lebih dalam lagi karena harus membayar tagihan listrik lebih mahal.

Inilah yang dihasilkan sistem liberalisme, sumber energi yang seharusnya digunakan dan di manfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Ini malah di pakai untuk mempertebal dan menambah kekayaan pribadi. Berbeda jika yang di terapkan syariat Islam. Islam memiliki aturan yangbparipurna (kaffah) karenga mengadopsi sisten yang berasal dari Allah Subhannahuwata'ala yang menciptakan manusia dan semesta alam ini. 

Dalam pandangan Islam, listrik merupakan milik umum di lihat dari 2 aspek yaitu: 1. Listrik yang digunakan sebagai bahan bakar masuk dalam katagori "api(energi" yang merupakan milik umum. Berbagai sarana dan orasaran penyediaan listrik seperti tiang listrik, gardu, mesin pembangkit dan sebagainya; 2. Sumber energi yang di gunakan untuk pembangkit listrik baik oleh Pt. PlN maupun swasta sebagian besar berasal dari barang tambang yang depositnya besar seperti migas dan batubara merupakan juga milik umum.
Karena milik umum haram hukumnya jika hasil olahannya dikomersialkan dan tidak boleh pengelolaannya di serahkan pada pihak swasta apapun alasannya. Negara bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan listrik baik itu dari sisi kualitas maupun kuantitas dengan harga murah atau bahkan gratis (jika memungkinkan). Untuk seluruh rakyat baik kaya atau miskin, muslim atau nonmuslim. Dengan prinsip-prinsip pengelolaan listrik tersebut, Indonesia bisa terhindar dari krisis listrik berkepanjangan dan dari harga yang melangit.

Wallahu a'lam bi shawab.(*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *