BPJS KETENAGAKERJAAN


Investasi: perlukah?


Negeri zamrud khatulistiwa dengan gugusan pulau-pulau secara geografis jika dilihat dari angkasa bak batu zamrud nan hijau. Hijau yang berasal dari kumpulan pohon-pohon bersatu menjadi hutan yang luas. Tanah hutan terdiri dari bahan padatan seperti mineral, bahan organik, air dan udara. Setiap lapisan tanah hutan atau horizon memiliki fungsi masing-masing. Salah satunya adalah horizon yang berfungsi sebagai tempat penimbunan atau pengendapan serta akumulasi dari bahan-bahan mineral seperti Fe, Al, Mn dan materi organik lainnya. Di dalam horizon tanah juga memiliki klasifikasi endapan mineral. Klasifikasi yang sering kita jumpai adalah klasifikasi mesotermal yang difokuskan pada endapan logam emas. 

Menurut SK menteri kehutanan tahun 2017, luas hutan yang dimiliki negeri zamrud tersebut sekitar 126.094.366,71 Ha. Selain kekayaan hutan, mineral yang terkandung di dalam tanah hutan itu juga berlimpah ruah. Diambil dari  International Union of Pure and Chemistry (IUPAC) ada sekitar 118 unsur kimia, 94 di antaranya  tersebar di alam dan 24 sisanya berada dalam bentuk instrumen. 

Pohon memang tidak berbuah uang, para ilmuwan mengkonfirmasikan bahwa partikel emas ditemukan di dalam daun yang tumbuh pada beberapa tanaman di hutan. Sehingga kisaran yang didapatkan dari hutan dan seisinya sungguh menggiurkan, maka wajar banyak perusahaan asing maupun swasta yang berkecimpung di dalamnya. Sebut saja Freeport, tambang emas terbesar di dunia itu ada di ujung timur negeri zamrud tersebut. Dahulunya  adalah pegunungan Papua dengan ketinggian 4.286 m dari laut. Setelah dikeruk sejak 1988, gunung itu menganga dengan lubang besar berdiameter 4 kilometer dan dengan kedalaman 1 kilometer. Tambang emas itu memiliki cadangan 29,8 juta troy ons biji emas dan memiliki cadangan tembaga paling banyak ketiga didunia. 

Jika dikaji lebih lanjut, kita pasti terkejut dengan hasil pendapatan yang seharusnya kita dapatkan dari hasil hutan dan seisinya. Belum lagi dari hasil yang lainnya, tetapi pada tanggal 14 Juli 2019 dalam pidato presiden mengenai visi kenegaraan di Sentul International Convention Center Bogor, Jawa Barat menyebutkan bahwa, “ kita harus mengundang investasi yang seluas-luasnya. Dalam rangka apa? Dalam rangka membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, karena itu jangan alergi terhadap investasi asing”. (Tempo.co.)

Investasi pada dasarnya boleh-boleh saja asalkan disertai akad syar’i dari kedua belah pihak. Baik pengusaha maupun investor tidak merasa merugi atau dirugikan. Fakta di lapangan tidaklah demikian, investasi terjadi cenderung menimbulkan ketidakadilan. Pengusaha haruslah membayar investor walaupun dalam kondisi merugi, sedangkan investor harus rela menerima bagian yang disepakati walau kondisi pengusaha mengalami keuntungan yang berlipat ganda. Belum lagi jika akad yang digunakan menggunakan sistem riba atau barang yang didagangkan merupakan barang haram. Jadilah investasi tersebut merupakan investasi yang tidak dibenarkan. 

Menanggapi pidato Pak Jokowi mengenai pembukaan investasi seluas-luasnya dengan tujuan membuka lapangan kerja seluas-luasnya tidaklah tepat. Dilihat dari sumber daya alam kita yang begitu melimpah seharusnya bisa dikelola dengan baik sehingga bisa mensejahterakan rakyat.  Karena pada faktanya ketika negara kita mengambil investasi baik dari asing atau swasta selalu mengalami kerugian. Belum lagi hutang yang kian menumpuk harus dibayar setiap tahunnya beserta bunganya. Hal ini mengakibatkan kecenderungan negara kita terhadap investor asing tidak terputus. Dan inilah yang mengakibatkan asing masuk ke negara kita dengan jalan investasi, kalau kita tidak mampu membayar para investor jadilah mereka menjajakan ide-ide mereka sampai yang paling mengerikan adalah mengambil alih negara kita. Walaupun secara kasat mata bukan mereka yang memimpin kita tetapi dibalik pemimpin kita mereka ada untuk menggerakkan negara kita demi kepentingan mereka dan inilah yang disebut sebagai penjajahan gaya baru atau Neoimperialisme. 

Sebagai negara yang berdaulat haruslah dipimpin oleh pemimpin yang berdaulat. Memiliki karakter yang tidak bisa dibelokkan oleh apa pun karena pemimpin tersebut punya pandangan sendiri mengenai negara yang berdaulat itu seperti apa. Pandangan tersebutlah yang menjadikan ia berbeda dengan negara mana pun, pandangan yang mendasar dan menyeluruh tentang hidup, standar apa yang harus kita gunakan, seperti apa yang harus kita lakukan dan mau dibawa kemana yang kita lakukan. Pandangan itu harus jadi standar benar dan salah dari apa yang kita lakukan. Jelas yang dikatakan benar haruslah yang sesuai menurut Islam dan dikatakan salah ketika Islam yang mengatakan itu salah. Jadi pemimpin itu harus punya pandangan Islam sebagai standar perbuatannya dalam bernegara. Sehingga negara tersebut jadi negara yang berdaulat. 

Dalam Islam sebuah negara harus menjadi perisai bagi rakyatnya. Negara Islam juga punya tata aturan kenegaraan, pengelolaan sumber daya alam sehingga negara Islam tidak menjadi komoditi asing untuk dijadikan sebagai jajahannya. Investasi bagi negara Islam hanya diperbolehkan bagi negara yang terikat kepada perjanjian. Investasi di dalam Islam harus sesuai dengan ketentuan di dalam Islam, baik akad transaksinya. Apakah hanya berinvestasi dengan bagi keuntungan sekian persen, atau selain berinvestasi juga ada kerja bersama. Atau jenis akad yang lainnya dengan syarat tetap sesuai dengan hukum syariat Islam. 
Jika kondisi sekarang, apakah investasi begitu di perlukan? Faktanya negara kita tidak membutuhkan investasi jika  sumber daya alam di kelola dengan baik. Kita akan mendapatkan keuntungan yang berlebih. Tidak perlu lagi memberatkan masyarakat dengan tagihan pajak. Karena selain dari penghasilan hutan, minyak , gas bumi, panas bumi, laut, dan tambang emas, tembaga , perak dan lainnya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat baik kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier. Patutlah jika penduduk bumi bertakwa kepada Allah dengan menerapkan syariat Islam yang di turunkan Allah, Allah akan melimpahkan rahmatnya  kepada kita. 
Di ambil contohnya dari kisah ‘Urwah bahwa Rasulullah memberinya uang satu dinar untuk dijadikan seekor kambing, dengan uang itu ia beli dua ekor kambing, kemudian salah satunya dijual seharga satu dinar, lalu ia menemui Rasul dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Maka Rasul mendoakan dia atas keberkahan dalam jual belinya”. Sungguh apabila dia berdagang debu sekalipun pasti mendapatkan keuntungan disebabkan ketakwaannya kepada Allah swt.

Sedangkan pengelolaan sumber daya alam tidak boleh dikelola oleh swasta apalagi asing. Hasil dari sumber daya alam digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Berdasarkan hadis Rasulullah “kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api” (HR. Abu Dawud dan Ahmad). 
Maka dari itu, sistem dalam negara Islam jelas memiliki aturan yang sempurna untuk memenuhi setiap kebutuhan rakyatnya. Berhenti berharap keuntungan dari investasi dalam demokrasi karena bukan keuntungan yang di dapatkan melainkan kerugian yang sangat mendasar.(*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *