BPJS KETENAGAKERJAAN


Promo Novel

Sarlem Jus

Alexandre Cristie

Karier Narkoba Melesat, Generasi Makin Tersesat


Oleh : Risnawati (Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)

Sungguh menyedihkan kasus narkoba semakin meningkat dan marak beredar dimana-mana, tak terkecuali di Indonesia. Mulai dari kalangan biasa hingga artis bahkan aparat pun terjerat Narkoba. 
Tribunnews.Com - Sebanyak sembilan artis terjerat kasus narkoba sejak awal 2019, ada nama Aris Idol, Nunung, hingga Jefri Nichol. 

Memasuki awal 2019, Aris Idol ditangkap polisi saat menggelar pesta sabu bersama empat lainnya. Hingga yang terbaru, komedian Tri Retno Prayudati alias Nunung dan artis peran Jefri Nichol, juga diamankan terkait penggunaan barang haram ini.

Dilansir juga dari Zonasultra.Com, Kendari  Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Lambandia, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara (Sultra), Iptu Iqbal terjerat kasus penyalagunaan narkoba. Hal itu diketahui setelah Bidang Promosi dan Pengamanan (Propam) Polda Sultra menggelar supervise di Mapolres Kolaka, Rabu (17/7/2019)

Kepala Sub Bidang (Kasubbid) Penerangan Masyarakat Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sultra Kompol Agus Mulyadi menerangkan, dalam kegiatan tersebut pihak Propam melaksanakan tes urine kepada 98 personel Polres Kolaka.

Tiga orang personel dinyatakan positif urinenya mengandung amphetamine dan metampetamine. Mereka adalah Iptu Iqbal menjabal Kapolsek Lambandia, Bripka BA Sarana dan Prasarana Abdurrahman dan Bripka Muh Anom dari satuan Sabhara, ungkap Kompol Agus Mulyadi, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/7/2019)
Berdasarkan Badan Narkotika Nasional (BNN), menyatakan bahwa penyalahgunaan Narkotika dan obat-obatan terlarang terus meningkat di tengah masyarakat. Menurut Kepala BNN Heru Winarko, kecendrungan meningkat ini dimulai dari anak-anak, remaja, artis hingga aparat Negara, seperti ASN, Anggota TNI dan Polri, kepala daerah, anggota legislative hingga dilingkungan rumah tangga. Hal ini disampaikan pada acara Hari Anti Narkoba Internasional 2029 di The Opus Grand Ballroom at The Tribrata, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (26/6/2019)

Sekularisme: Akar Masalah 
Maraknya narkoba, disebabkan penerapan sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dalam masyarakat saat ini. Ketika kehidupan dunia sudah tidak diatur dengan syariat Islam, maka hal ini mengakibatkan banyak yang lalai akan tujuan hidup, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya, lupa bahwa kehidupan ini adalah ladang beramal untuk akhirat. 

Akibatnya suburlah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup (hedonisme) dan serba-boleh (permisif). Masyarakat diubah menjadi pemburu kesenangan dan kepuasan. Prinsipnya bukan halal-haram atau pahala-dosa, tetapi uang saya sendiri dan badan saya sendiri, terserah saya, kan tidak mengganggu anda. 

Akhirnya, miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dsb, menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat. Ditambah lagi dengan sistem hukum yang saat ini, pecandu narkoba tidak lagi dipandang sebagai pelaku tindak kriminal, tetapi hanya korban atau seperti orang sakit. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere mengatakan (Kompas.com, 4/10): Pencandu narkoba seperti orang yang terkena penyakit lainnya. Mereka harus diobati, tetapi menggunakan cara yang khusus. 

Disisi lain, sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak. Vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh MA dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara. 
Dengan demikian, penyebab tingginya penyalahgunaan narkoba hingga level darurat ini bukan hanya karena faktor individu yang ingin coba-coba dan tawaran dari pengedarnya, tapi mencakup berbagai aspek berskala sistemik. Bahkan, faktor lingkungan masyarakat dan penerapan aturan dari negaralah yang menjadi faktor terbesar yang memperparah kasus ini. Semua itu tak lepas dari sistem kapitalis sekuler yang diadopsi negeri ini. Sistem yang lahir dari sekulerisme yang menjadikan manusia sebagai pembuat hukum ini telah membuat banyak orang jauh dari agama dan melanggar berbagai aturan, termasuk aturan dari Sang Pencipta.

Islam Menuntaskan Masalah Narkoba
Islam telah melarang hal-hal yang bisa merusak akal manusia, seperti meminum Khamr, mengkonsumsi narkotika, dll. Islam telah menempatkan akal pada tempatnya yang tinggi dan layak, yaitu menjadikan akal sebagai objek hukum/manaathut takliif, yang dengan akal tersebut manusia mampu berpikir untuk menyelesaikan setiap problem hidupnya. (Lihat Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah, hal 195).
Narkoba adalah zat yang memabukkan dengan beragam jenis seperti heroin atau putaw, ganja atau marijuana, kokain dan jenis psikotropika; ekstasi, methamphetamine/sabu-sabu dan obat-obat penenang; pil koplo, BK, nipam dsb. Zat yang memabukkan dalam al-Quran disebut khamr, artinya sesuatu yang dapat menutup akal.

Abdullah bin Umar ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dari Ummu Salamah r.a , ia berkata: Rasulullah saw melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah) (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309). Yang dimaksud mufattir, adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (istirkha`) dan malas (tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qalahjie, Mujam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 342). 

Tak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya narkoba dalam berbagai jenisnya, baik itu ganja, opium, morfin, mariyuana, kokain, ecstasy, dan sebagainya. Sebagian ulama mengharamkan narkoba karena diqiyaskan dengan haramnya khamr, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan (muskir). Sebagian menyatakan haramnya narkoba bukan karena diqiyaskan dengan khamr, melainkan karena dua alasan; Pertama, ada nash yang mengharamkan narkoba, Kedua, karena menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. (Syaikh Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, juz IV, hlm. 177) 

Ketika akar masalahnya adalah pengabaian hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkoba adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah. Rasulullah bersabda: Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. (HR. Ibnu Majah dg sanad hasan). 
Ketika syariat Islam diterapkan, maka peluang penyalahgunaan akan tertutup. 

Landasan akidah Islam mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Ketakwaan yang terwujud itu akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan narkoba. Disamping itu, alasan ekonomi untuk terlibat kejahatan narkoba juga tidak akan muncul. Sebab pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat (papan, pangan dan sandang) dan kebutuhan dasar masyarakat (pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan) akan dijamin oleh negara. Setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya sesuai kemampuan masing-masing. 

Sebagai zat haram, siapa saja yang mengkonsumsi, mengedarkan dan memproduksinya berarti telah melakukan jarîmah (tindakan kriminal) yang termasuk sanksi tazir. Pelakunya layak dijatuhi sanksi dimana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.

 Terhadap pengguna narkoba yang baru sekali, selain harus diobati/direhabilitasi oleh negara secara gratis, mungkin cukup dijatuhi sanksi ringan. Jika berulang-ulang (pecandu) sanksinya bisa lebih berat. Terhadap pengedar tentu tak layak dijatuhi sanksi hukum yang ringan atau diberi keringanan. Sebab selain melakukan kejahatan narkoba mereka juga membahayakan masyarakat. 

Maka, persoalan narkoba yang menjerat negeri ini hanya bisa diselesaikan secara tuntas jika syariat Islam diterapkan dalam naungan institusi Khilafah Islamiyyah, sehingga segala aspek kehidupan diatur berdasarkan syariat dari Allah Al Khaliq Al Mudabbir. Wallahu alam.(*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *