BPJS KETENAGAKERJAAN


Merindukan Muamalah Yang Jujur

Oleh : Ummi Munib

Aktifitas muamalah antar sesama manusia tidak bisa lepas dari sebuah alat yang bernama timbangan, terlepas timbangan tersebut akurat atau tidak, ketika alat tersebut tidak akurat,  maka salah satu pihak tentu akan dirugikan. Untuk menghindari ketidakakuratan timbangan belum lama ini sebagaimana dilansir oleh inilahkoran.com

 (18/07/2019), Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Bandung menghimbau agar para pedagang rutin melakukan kalibrasi atau tera timbangan. Minimal, setiap enam bulan sekali.  Pedagang yang ingin melakukan kalibrasi, bisa menghubungi UPT Metrologi Cinunuk supaya layanan kalibrasi atau tera ulang bisa dilakukan secara kolektif di tempat terdekat dengan pedagang. Para pedagang pasar bisa menghubungi pengelola pasar untuk memfasilitasi UPT Metrologi melakukan kalibrasi secara massal di pasar. Namun memang, sejauh ini masih banyak pedagang di Kabupaten Bandung yang tidak rutin melakukan kalibrasi timbangannya.

Kalibrasi, sebuah kata yang agak asing ditelinga masyarakat awam. Dalam wikipedia ensiklopedia bebas, didefinisikan kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukurdan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional,  maupun internasional,  untuk satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Adapun  tujuan kalibrasi  salah satunya untuk menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional maupun Internasional. Dengan demikian betapa pentingnya kalibrasi  timbangan yang rutin bahkan merupakan  satu hal yang wajib diupayakan untuk memastikan tidak terjadi kecurangan di tengah masyarakat dalam proses muamalah (jual beli). Saat ini banyak berbagai keluhan di masyarakat yang tidak terekspos, ketika berbelanja timbangannya pas,  namun ketika sampai di rumah di timbang ulang jadi berkurang timbangannya. Salah satu contoh kasus yang menimpa ST, warga Perumnas Wayhalim menceritakan, dirinya merasa dicurangi setelah membeli ikan giling di Pasar Wayhalim Lampung. Dirinya membeli ikan giling seberat 1 kilogram, namun ketika ditimbang ulang di rumah, beratnya kurang 100 gram." ungkapnya kepada Tribun Kamis (8/7).

Itulah kondisi pasar saat ini, penuh kecurangan dan manipulasi. Jauh dari keberkahan. Padahal tidak sepatutnya demikian,  karena mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Hal ini tiada lain disebabkan karena  sistem yang mencengkram adalah kapitalis sekuler.  
 Kapitalis sekuler adalah sebuah sistem kehidupan  yang menyerukan pemisahan agama dari kehidupan. Sistem ini hanya buatan manusia yang lemah akal dan mengedepankan hawa nafsu.  Maka tak heran asasnyapun adalah   keuntungan semata. Tidak peduli dengan timbangan yang curang,  ketika bermuamalah asalkan untung. Mereka lupa bahwa Allah SWT  Maha mengawasi setiap aktifitas yang mereka lakukan. Seolah-olah Allah tidak hadir ketika bermuamalah. Mereka lupa bahwa setiap perbuatan di dunia akan dihisab kelak di Yaumil akhir. Untuk itu tidak sepatutnya sebagai muslim yang beriman meyakini aqidah yang rusak ini, karena telah nyata membuat rusaknya tatanan kehidupan termasuk muamalah.

Berabad silam Rasulullah SAW, telah memperingatkan bahwa pasar disebut sebagai tempat yang paling buruk, yang di dalamnya ada kecurangan, penipuan, manipilasi dan lain-lain.”Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim). Begitu juga dengan  perilaku curang dalam perdagangan sudah terjadi sejak lama. Tatkala Rasulullah awal kali tiba di Yatsrib (Madinah), beliau menemukan banyak sekali pedagang yang mengurangi timbangan dan takaran pada barang dagangannya. Hingga akhirnya fenomena kecurangan ini menjadi sebab turunnya awal Surat Al-Mutaffifin. Allah SWT Berfirman yang artinya :
1. Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang 2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi 3. dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi  (QS. Al-Muthaffifin 1 – 3)

Di antara bentuk celaka  dalam ayat diatas,   adalah hilangnya barokah dari harta yang diperoleh. Karena sejatinya, kentungan materi yang mereka dapatkan dari hasil kecurangan hanyalah kekurangan akibat hilangnya barokah. Jauh dari sifat Qonaah akhirnya menjerumuskan manusia pada sikap tamak, rakus dan serakah. Untuk itusudah semestinya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam hal ini dinas terkait untuk melakukan kalibrasi agar timbangan tetap akurat sehingga tidak ada yang dirugikan. Selain itu dibutuhkan ketegasan dan kekonsistenan dari Pemerintah untuk melakukan proses kalibrasi ini. Sebagaimana Islam telah mempraktekannya melalui perangkat khasnya yakni qadhi hisbah sebagai pelaksana tugas ini.

Dengan demikian betapa besar perhatian Islam terhadap hal muamalah, dengan adanya  Lembaga hisbah yang merupakan bagian dari sistem peradilan dalam Islam,lembaga ini juga bertugas memberantas para pedagang yang gemar menyembunyikan kekurangan dan kecacatan barang yang dijualnya serta pedagang yang bersumpah palsu didepan pembeli. Lembaga hisbah harus jeli pula pada pedagang yang suka menimbun barang yang berakibat pada kelangkaan beberapa jenis  barang, yang pada gilirannya berimplikasi pada terjadinya inflasi. Selain itu lembaga hisbah dituntut mampu menjaga stabilitas harga pasar dan melarang praktek monopoli pada produk tertentu dan memberantas segala praktek yang mengandung riba. Ketika Nabi Muhammad Saw, menjadi Kepala Negara Islam pertama. Beliau  Keluar sendiri ke pasar-pasar dan mengawasi transaksi didalamnya. Beliau mengarahkan pedagang untuk berperilaku baik dalam bertransaksi dan melarang mereka melakukan dusta, penipuan, pengkhianatan, menimbun barang dan lain sebagainya. Kemudian pada masaKhalifah Umarbin Khattab, beliau mengangkat As-Syifa’binti Abdullah, sebagai qodhi hisbah bertugas sebagai pengawas pasar di Madinah.Petugas hisbah tersebut dilengkapi dengan dirrah [tongkat atau cemeti] untuk mencegah orang melakukan penipuan harga dan barang. Alhasil dengan adanya lembaga hisbah ini, maka muamalah akan berjalan secara jujur tanpa kecurangan dan manipulasi.
Untuk itu tidak ada keraguan lagi bahwa hanya sistem Islamlah yang mampu menciptakan muamalah yang jujur penuh berkah jauh dari kecurangan dan manipulasi sehingga hak umat sangat diperhatikan. Maka sudah saatnya kita bersama-sama berjuang agar sistem tersebut tegak kembali, karena  sudah merupakan kewajiban seorang muslim masuk islam secara kaffah (QS, Al-Baqoroh ; 208).

Wallahu a'lam bi as Shawab(*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *