BPJS KETENAGAKERJAAN


Promo Novel

Sarlem Jus

Alexandre Cristie

Potret Generasi Milenial

Oleh Ai Hamzah

Tampak ditempat food court disebuah mall terkenal, anak-anak berseragam putih abu dan putih biru. Mereka tidak merasa canggung atau kikuk dengan apa yang mereka lakukan.

Perhatian ini jatuh kepada remaja putri putih abu lengkap dengan kerudungnya. Agak kaget memang ketika melihat mereka sedang bersolek bak artis terkenal dan itu mereka lakukan tanpa ragu dan canggung ditengah banyak orang. Make up yang mereka kenakan jauh lebih komplit dibanding dengan emaknya sendiri sepertinya.

Di sudut yang lain ada sekumpulan putih abu juga lengkap dengan alat musik gitar, entah apa yang akan mereka lakukan dengan alat musik itu, yang jelas mereka bak band terkenal ngobrol-ngobrol dengan gitar ditangannya sebagai aksesoris. 

Lain lagi pemandangan ditempat rekreasi diluar, pantai misalnya menjadi tempat yang favorit bagi mereka muda mudi, remaja untuk berdua-duaan dengan berbagai gaya.
Mereka sudah tidak merasa malu atau canggung, menebar kemesraan. Mereka asyik berdua-duaan, tanpa ada rasa malu ataupun kikuk ditempat umum, yang lain tidak mereka hiraukan. 

Belum lagi anak-anak yang kecanduan gaget dan game online, asyik dengan dunianya sendiri. Mereka juga tidak menghiraukan sekeliling mereka. Saking asyiknya, bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi difasilitasi oleh negara, dan ini akan menjadi dalih bagi mereka.

Baru ini telah diliris film remaja dengan tajuk "Dua Garis Biru", dan film ini laris manis dipasaran. Bak film heroik remajapun berbondong-bondong tidak mau ketinggalan menjadi penontonnya. Dengan dalih "edukasi sex" film ini telah lulusan sensor. Padahal film ini menceritakan pergaulan muda mudi yang tanpa batas, bebas sebebas-bebasnya.

Bukankah kemajuan suatu negara ini tergantung dengan generasi muda? Bagaimana akan menjadi negara yang maju dan berpengaruh kalau generasi muda hanya mengedepankan hawa nafsunya saja? Mustahil negeri ini akan menjadi negeri yang maju kalau potret generasi milenialnya seperti ini.

Peran negara sangatlah penting dalam hal ini. Kholifah pada saat khilafah Islamiah sangat memperhatikan genarasi muda. Mulai dari pendidikan usia dini, sejak anak-anak usia 7 tahun. Diajarkan sholat dan terikat hukum syara, ilmu pengetahuanpun sangatlah luas sehingga pada saat itu anak-anak sudah menghafal Al quran dan hadist. 

Sehingga bermunculan nama Alfiah Ibn Malik, Iyash bin Mu'awiyah dan Muhammad bin Idris as Syafii, pada usia 10-15 tahun sudah menguasai Al quran, hadist, dan memberikan fatwa.

Negara juga menjamin kehidupan yang bersih bagi pemuda, mereka jauh dari perbuatan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Sehingga banyak karya ilmiah dan riset-riset yang mereka hasilkan. Jauh dari pergaulan bebas, jinah, miras, dugem, galau dan lain-lain.

Rosulullah SAW bersabda " Di antara ciri baiknya keislaman seseorang, ketika dia bisa meninggalkan apa yang tidak ada manfaat bagi dirinya".

Wallahu A'lam(*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *