BPJS KETENAGAKERJAAN


RI Minta China Pulangkan 18 WNI Korban Pengantin Pesanan

Korban pengantin pesanan ke China. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)


Jakarta, Kupasonline -- 
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi meminta China segera memfasilitasi pemulangan 18 perempuan Indonesia korban pengantin pesanan yang saat ini ditampung sementara di Kedutaan Besar RI di Beijing.

Permintaan itu disampaikan Retno saat bertemu dengan Menlu China Wang Yi di sela-sela pertemuan menteri luar negeri ASEAN dan negara Mitra di Bangkok, Thailand, Selasa (30/7).

"Sebagai upaya penyelesaian permasalahan pengantin pesanan (mail-order brides), Menlu Retno mengusulkan tiga hal, yang pertama itu agar 18 korban yang sudah berada di KBRI Beijing dapat segera difasilitasi pemulangannya," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri RI yang diterima pada Rabu (31/7).

Dilansir dari cnn indonesia, Dalam pertemuan itu, Retno menegaskan bahwa kasus pengantin pesanan harus segera ditangani melalui tindakan pencegahan. Ia meminta proses legalisasi dokumen pernikahan campuran di KBRI Beijing dan catatan sipil China dapat dilakukan dengan lebih ketat dan teliti lagi.

Retno juga menekankan pentingnya kerja sama antara Indonesia dan China dalam hal penegakan hukum terkait kasus ini, seperti menangkap para agen perdagangan manusia berkedok perjodohan yang beroperasi di Negeri Tirai Bambu.

Sebab, menurut dia, perekrutan pengantin pesanan ini tidak hanya dilakukan agen di Indonesia, tapi juga agen di Tiongkok.
Retno menyampaikan otoritas Indonesia sudah menangkap sejumlah tersangka terkait kasus ini. Ia berharap China bisa melakukan hal serupa.

"Saya baru saja bertemu dengan delapan korban perdagangan orang di Pontianak, Kalimantan. Para korban menyampaikan bahwa mereka direkrut oleh agen yang memberikan informasi palsu. Sebagian dari mereka mengalami kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual serta tidak diberikan makanan yang mencukupi," kata Retno.

Sejak Januari-Juli 2019, tercatat ada 32 kasus pengantin pesanan yang ditangani Kemlu RI. Puluhan perempuan itu dijodohkan dengan pria Tiongkok dengan iming-iming kesejahteraan yang terjamin.
Agen tersebut menjanjikan sejumlah uang kepada keluarga sang perempuan sebagai imbalan. Namun, dalam beberapa kasus, uang yang diberikan agen tidak sesuai dengan perjanjian awal dengan alasan biaya administrasi dan logistik lainnya.

 Selepas dipersunting dan dibawa ke China, para perempuan itu juga malah dipekerjakan sebagai buruh dan kerap disiksa.

Pemerintah Indonesia disebut kesulitan untuk membantu atau memulangkan puluhan WNI itu lantaran mereka menikah dengan dokumen dan persyaratan yang sah di mata hukum China sehingga repatriasi memerlukan izin para suami.

Selain soal pengantin pesanan, pertemuan Retno dan Wang Yi juga membahas outlook ASEAN mengenai Indo-Pasifik yang menekankan sentralitas dan dialog kerja sama.

Isu Laut China selatan juga turut menjadi poin penting dalam pertemuan kedua menlu tersebut, di mana Retno menekankan semua pihak untuk menjaga perairan tersebut sebagai kawasan yang stabil.

Pernyataan itu diutarakan Retno menyusul dugaan perluasan pembangunan instalasi militer China di perairan tersebut dalam beberapa waktu terakhir.(*/wan)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *