Jakarta, Kupasonline-- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjadi sorotan usai pidatonya di Hari Guru Nasional 2019 beberapa hari lalu. Dalam pidatonya yang tanpa basa-basi itu dia ingin perubahan dalam pendidikan Indonesia dimulai dan berakhir di tangan guru.

Nadiem meminta agar para guru mampu melakukan inovasi tanpa menunggu perintah. Ia juga meminta para guru menggandeng guru lainnya yang sedang mengalami kesulitan dan merangkul murid untuk diarahkan sesuai kemampuan.

Dia juga menekankan agar guru lebih bebas dalam mengajar dan tidak terkungkung pada persoalan administrasi.

Tak cuma itu, Nadiem juga tak kaku dan lebih fleksibel saat menyampaikan pidatonya. Tak biasanya, pidato Nadiem sebagai menteri tidak diawali dengan sapaan formal kepada deretan para pejabat.

Pengamat Pendidikan dari Komnas Pendidikan Andreas Tambah mengatakan butuh jalan panjang untuk mengubah sistem pendidikan.

Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh Nadiem, yakni sumber daya manusia (SDM), manajemen, dan kurikulum.

"Ke depan Pak Nadiem akan mulai dari mana? Karena kendala berat kita itu ada di mindset-nya untuk berubah. Ini enggak masalah gampang," kata Andreas.

Andreas menerangkan bahwa selama ini salah satu masalah pendidikan ada di SDM. Banyak guru yang sebetulnya tidak pernah benar-benar ingin menjadi guru. Belum lagi mereka dipaksa untuk terus mengikuti kurikulum di Indonesia.

"Guru-guru kita yang masih aktif merupakan produk dari sebuah sistem yang kurang mendukung. Dulu orang pengin jadi guru karena pilihan terakhir, sehingga yang mau jadi guru bukan orang hebat yang kita bayangkan," ucap dia.

"Background seperti ini mau dibawa perubahan yang modern enggak gampang, jadi ini sebuah langkah maju tapi beban berat ini yang harus ditempuh," lanjut dia.

Kedua, masalah manajemen dan visi pendidikan. Andreas mengaku khawatir bahwa perubahan ini hanya sampai di masa kepemimpinan Jokowi dan Nadiem. Menurutnya pemerintah sekarang harus memikirkan cara untuk membuat sistem yang berkelanjutan yang tidak akan diubah di periode pemerintahan selanjutnya.

"Pertanyaan saya ke depan setelah lima tahun pak Jokowi perubahan dari pak Nadiem terpakai atau tidak? Kalau kondisi seperti ini berubah, (maka) kesan ganti presiden ganti kurikulum yang sangat melekat itu berubah," ungkap dia.

Terakhir, Andreas juga menilai kurikulum yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan anak di Indonesia. Satu di antaranya, ia berharap, ada kurikulum soal mengubah pola pikir peserta didik. Dengan pola yang baru diharapkan bisa menciptakan pengusaha muda dan siap bersaing di kancah internasional.

Dukungan Penuh Presiden

Pengamat Pendidikan Mohammad Abduhzen memandang langkah Nadiem patut diapresiasi. Namun persoalan pendidikan di Indonesia begitu kompleks. Mengubah wajah pendidikan menurutnya mustahil tanpa dukungan semua pihak, terutama dari Presiden Joko Widodo.

Abduhzen mencontohkan menteri-menteri terdahulu yang gagal melakukan perubahan karena tidak mendapat dukungan penuh dari Presiden.

"Masalah pendidikan itu sangat kompleks melampaui kapasitas kementerian karena itu tidak bisa Pak Nadiem diceburkan sendiri. Harus didukung penuh, terutama dari Presiden seperti Presiden mendukung penuh (proyek) jalan tol," kata Abduhzen  Selasa (26/11). Dilansir dari cnn indonesia. 

Abduhzen mengatakan sebagai menteri, Nadiem adalah perpanjangan tangan dalam meneruskan visi pendidikan pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin untuk lima tahun ke depan.

Jika Jokowi hanya menyerahkan penyelesaian persoalan pendidikan kepada Nadiem sendirian, maka perubahan sulit terwujud.

"Kalau kita hanya mengandalkan Pak Nadiem hanya sebagai operator, apalagi kalau nanti ada perubahan ekstrem seperti Pak Muhadjir mau hapuskan UN, kan tidak bisa karena tidak ada dukungan," ujarnya.

Sebelumnya Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan Jokowi memberikan kewenangan penuh pada Nadiem untuk mengubah paradigma kurikulum dan tata cara belajar mengajar.

Jokowi, kata Pramono, sejak awal memberikan kepercayaan pada Nadiem sebagai Mendikbud untuk melakukan perubahan-perubahan.

"Sehingga memberikan kegembiraan pada siswa untuk belajar dan tidak dijejali dengan tugas-tugas yang terlalu berlebihan," kata Pramono.(*/wan)
 
Top
/* Pengunci navbar*/