Belawan, Kupasonline -- Belakangan ini kapal ikan di Gabion Belawan jadi bahan perbincangan berbagai kalangan, namun masih banyak yang belum memahami alat tangkap ikan yang sesuai dengan zona operasi. 

Akibatnya tudingan tanpa kajian jadi pemicu persoalan antar nelayan. Tak jarang pula situasi tersebut jadi ajang manfaat demi keuntungan pribadi ataupun golongan.

 Seperti Kapal Fhisser dan pukat Teri Gabion Belawan, ke dua jenis kapal ikan di Gabion Belawan yang dinilai penghancur dan perusak nelayan kecil itu bebas beroperasi di laut pantai Barat dan Timur wilayah Sumatera Utara.


Menanggapi masalah itu, Aliansi Wartawan Medan Utara (Awan Mera) melalui bidang SDM Hans Marpaung desak Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP) agar mencopot jabatan dua lembaga yang terkait.Senin (8/12/19).

"Dinas Kelautan Dan Perikanan Sumatera Utara yang keluarkan izin kapal ikan Fhisser dan pukat teri Gabion Belawan harus bertanggung jawab dengan izin yang dikeluarkan, sementara Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Belawan harusnya mengawasi kapal ikan Gabion Belawan agar pengusaha ikan Gabion Belawan tidak melakukan markdown (Penyimpangan Growtston-red) kapal dan kecurangan alat tangkap", kata H.  Marpaung di Belawan.


Kenyataan di lapangan lanjut H.Marpaung, "kapal ikan Fhisser  gunakan daya lampu sorot dengan kapasitas tinggi, pakai alat tangkap pukat lingkar, serta growthstonsnya diyakini bermasalah. Begitu juga dengan kapal ikan teri, izin operasionalnya serta ukuran kapalnya  diyakini tidak sesuai dengan izin yang dikeluarkan Diskanla Sumut. Oleh karena itu, kita mendesak KKP RI segera mencopot kepala PSDKP Belawan Donny dan mencopot jabatan Kadiskanla Sumut" Tegas H. Marpaung.


Pantauan di lapangan, puluhan kapal Fhisser yang dilengkapi puluhan bola lampu gantung sandar di tangkahan gudang Sarwo di Gabion Belawan. Puluhan kapal Fhisser yang resahkan nelayan kecil dan nelayan pukat langgar itu tidak melaut, alasannya karena cuaca bulan terang.


Ari seorang Nelayan pukat langgar mengatakan "Sebenarnya yang resahkan nelayan kecil dan nelayan pukat langgar itu kapal ikan fhisser dan pukat teri, kalau trowl jauh di tengah (Operasi zee-red). Fhisser cahaya lampunya sangat terang dan bisa mematikan anak ikan, operasinya sistem kapal hanyut ikuti arus air sehingga ikan yang kumpul dilampui pukat langgar pindah ke cahaya lampu fhisser, kemudian ikan ikan itu dirangkap dengan pukat, alat tangkap kapal fhisser tidak saja cuma pancing tapi kapal fhisser itu dilengkapi pukat. Jika mereka beroperasi ke pinggir laut, maka yang resah itu nelayan kecil". Beber nelayan pukat langgar Gabion tersebut.


Hal serupa juga dikatakan nelayan pukat teri Gabion Belawan berinisial IL. Menurut IL hatinya nolak dengan sistem operasi pukat teri, namun karena keadaan dirinya terpaksa melaut ikut pukat teri.

"Sebenarnya pak yang meresahkan nelayan kecil pancing dan jaring itu pukat teri, karena operasinya di pinggir tak jauh dari daerah nelayan jaring. Mata pukatnya kecil hingga semua jenis ikan masuk saat dilingkung. Ukuran kapalnya juga masalah, selain itu banyak anak di bawah umur yang ikut melaut". Kata IL yang minta namanya disembunyikan.


Kepala Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Belawan Donny ketika hendak dikonfirmasi, Senin (8/12) tidak berada di kantornya. Menurut Security, Donny sudah dua Minggu di luar kota.

"Saya sudah tanyakan ke dalam, tidak ada yang berwenang yang bisa dijumpai, pak Donny sudah dua Minggu di luar kota". Kata Security piket. (raj)
 
Top
/* Pengunci navbar*/