BPJS KETENAGAKERJAAN


Promo Novel

Sarlem Jus

Alexandre Cristie

Mampukah Gerakan Pelihara Satu Ayam Mengatasi Stunting?

Oleh : Ummi Munib 
Ibu RumahTangga
Stunting kembali menjadi isu yang hangat diperbincangkan saat ini. Sebagaimana dilansir Republika Co.Id (25/11/2019) bahwa penderita stunting di Indonesia saat ini adalah sepertiga dari total anak Indonesia. Ketua Umum IDI Daeng M Faqih mengungkapkan, presentase anak stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen, terpaut cukup jauh dari angka yang menjadi rujukan World Health Organization (WHO,) yaitu di bawah 20 persen. 

Daeng mengatakan, berdasarkan angka tersebut, dibutuhkan upaya maksimal untuk menurunkannya lebih dari 10,8 persen. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah mendeklarasikan Pencegahan stunting sebagai bagian dari perayaan Hari Bakti Dokter Indonesia ke-111 yang bertempat di lapangan parkir Gelora Bung Karno Jakarta. 

Masih menurut Daeng Stunting merupakan kondisi di mana anak gagal tumbuh karena kurang protein atau kurang gizi. Hal ini akan berakibat pada keterhambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Selain itu, stunting juga dapat membuat anak berpotensi terkena penyakit tidak menular di masa pertumbuhannya. Daeng juga menjelaskan bahwa stunting pada dasarnya bisa diobati, tetapi tidak maksimal 100 persen.

Terkait pencegahan stunting belum lama ini Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengusulkan agar satu keluarga memelihara ayam untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Ia mengatakan pemenuhan gizi anak bisa dilakukan dengan memberi asupan telur dari ayam yang dipelihara tersebut, gizi yang diberikan sejak usia dini dapat menekan angka stunting alias gagal tumbuh akibat kurang gizi kronis pada seribu hari pertama. "Perlu setiap rumah ada (memelihara) ayam, sehingga telurnya itu bisa untuk anak-anaknya," kata Moeldoko di Kantor  Staf Presiden, Jakarta, Jumat (15/11/2019). CNN Indonesia (15/11/2019).

Bak gayung bersambut, kebijakan Moeldoko mendapat dukungan dari Menteri Pertanian  Syahrul Yasin limpo, yaitu  agar setiap keluarga memelihara satu ekor ayam untuk mencegah stunting. Menurutnya, kebutuhan ayam nasional akan terpenuhi jika usulan itu terealisasi. Ujar Syahrul di Kantor PT Charoen Pokhpan Indonesia, Jakarta, Minggu (24/11).

Selain itu, Syahrul berkata realisasi satu keluarga satu ayam tidak bisa terwujud hanya melalui program pemerintah. Dia berkata harus ada gerakan yang mendorong agar usulan itu terwujud. Senada dengan yang diungkapkan dua yokoh sebelumnya, Deputi bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan,  usulan satu orang pelihara satu ayam adalah hal yang baik, sebab masyarakat selama ini belum menganggap ayam sebagai kebutuhan yang penting bagi pertumbuhan. "Kita kan masih selalu mengutamakan beras. Jadi kalau makan beras apapun lauknya dianggap cukup karena kenyang," Padahal gizinya tidak berimbang. Itu yang menyebabkan kita masih stunting," ujarnya. CNN Indonesia (24/11/2019).
Berpijak pada pernyataan Moeldoko, akan muncul pertanyaan seberapa banyak ayam apabila setiap rumah harus memelihara ayam?. Sebenarnya populasi ayam yang dipelihara di Indonesia jumlahnya cukup tinggi. Dilansir Kompas.com (02/09/2018) Kementerian Pertanian memastikan produksi daging (karkas) ayam ras broiler (ayam pedaging) pada 2018 aman, bahkan surplus. "Berdasarkan data ketersediaan dan kebutuhan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahwa kondisi daging ayam nasional pada 2018 masih mengalami surplus dengan potensi kelebihan produksi sebanyak 331.035 ton dengan rataan per bulan sebanyak 27.586 ton," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita. Dengan demikian  urusan populasi  ayam bukanlah masalah, karena sebetulnya yang memelihara ayam jumlahnya banyak. Yang menjadi masalah adalah konsumsi, tidak semua masyarakat bisa mengkonsumsi daging ayam atau telur ayam itu sendiri karena  kemampuan daya beli  yang berbeda.  

Kemudian masalah lain yang timbul  bila tiap rumah harus pelihara ayam adalah ketersediaan lahan. Rumah susun  dan rumah petak sudah barang tentu tidak mempunyai pekarangan. Program setiap rumah harus memelihara ayam,  bisa jadi  sebagai sebuah jawaban terhadap masalah gizi buruk yang  dialami keluarga miskin.  Kebijakan ini dibuat seiring menguatnya desakan banyak pihak agar pemerintah serius menurunkan angka stunting.

Itulah sejatinya sistem kapitalisme sekuler,  sebuah sitem kehidupan  rusak yang  hanya berpihak kepada kaum kapital (pemilik modal). Negara menyerahkan urusan masyarakat kepada individu. Negara  hanya sekedar  pembuat regulasi. Demikian juga  dengan pembuatan kebijakan  gerakan nasional yang bertumpu pada keaktifan  masyarakat, yakni gerakan memelihara ayam pada setiap rumah, tidak akan mampu mengatasi stunting secara tuntas.  Gerakan ini semakin menunjukkan lepasnya tanggung jawab terhadap pemenuhan kemaslahatan rakyat.
Berbeda dengan sistem Islam, Islam bukan sekedar agama melainkan solusi tuntas bagi semua persoalan. Islam mewajibkan negara membuat kebijakan menyeluruh,  menghapus kemiskinan dengan pengelolaan yang benar terhadap  sumber daya alam yang dimiliki. Negara wajib memaksimalkan pemberian layanan kebutuhan masyarakat secara gratis berkualitas, yakni benar-benar memastikan masing-masing individu dalam masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan,  dan  pendidikan serta keamanan secara langsung. Inilah prioritas utama yang diperhatikan negara, selain juga negara wajib menjamin setiap kepala keluarga bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sejarah mencatat bagaimana seorang  Khalifah Umar bin Khaththab yang setiap malam  tidak pernah tidur nyeyak. Beliau khawatir jika masih ada anggota masyarakatnya kelaparan. Maka tidak heran khalifah Umar sering melakukan sidak ke rumah-rumah penduduknya untuk melihat bagaimana kondisi rakyatnya. Dan ketika mengetahui ada salah satu keluarga yang belum makan, beliau pun rela memanggul sendiri bahan pokok untuk diantar ke keluarga tersebut. Tentunya peristiwa tersebut  terjadi ketika Islam ditegakkan secara menyeluruh. Karena sesungguhnya tugas penguasa adalah pelayan umat. 

 Nabi saw bersabda: 
“Seorang iman (pemimpin) pengatur dan pemelihara urusan rakyatnya dia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya”(HR. al-Bukhari dan Muslim). 
Oleh karena itu,  sudah sepatutnya sistem kapitalisme yang merupakan sumber permasalahan,  segera  kita tinggalkan dan bersegera memperjuangkan sistem yang datangnya Allah Swt yakni sistem Islam. Menegakkan sistem ini hukumnya wajib  sebagaimana firman Allah :
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS. Al-Maidah: 49)
Wallahu a’lam bi ash-shawab(*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *