BPJS KETENAGAKERJAAN






Sekularisasi Marak, Mutilasi Kian Merebak

Oleh : Sindy Utami (Mahasiswa Fak. Hukum dan Aktivis BMI kolaka)

Suara.com - Polres Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, kekinian tengah menangani kasus suami yang memutilasi istrinya sendiri. Pelaku berinisial MU, sedangkan korban berinisial SA. Kekinian, polisi merencanakan menggelar rekonstruksi kasus mutilasi tersebut. Kapolres Sumbawa Ajun Komisaris Besar Tunggul Sinatrio yang ditemui seusai menjalankan salat Jumat di Masjid Baitussalam Polda NTB, Jumat (10/1/2020), mengatakan, rencana rekonstruksi dibuat untuk melengkapi berkas perkara milik MU yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Atas perbuatannya, Lim kini dikenakan pasal 338 juncto pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara atau paling tinggi hukuman mati.

Telaah Mendalam Akar Masalah
Alamiahnya seorang manusia lahir ke dunia adalah sepaket dengannya segenggam kasih sayang yang senantiasa memenuhi hatinya. Apa lagi tentang sepasang suami-istri yang telah mengikatkan diri dalam suatu pernikahan. Maka naluri nya ingin selalu melindungi, memberikan rasa aman serta nyaman. Ikatan pernikahan merupakan ikatan peribadahan yang terus berlaku sepanjang masa selama masih saling mengikatkan diri. Namun ikatan nan suci ini tak lagi berlaku dewasa ini. Lantaran masing-masing individu baik istri maupun suami mengikat diri tidak selalu dilandasi atas keyakinan bahwa pernikahan merupakan sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Jaman milenial seperti ini kebanyakan seseorang memutuskan menikah lantaran menyelesaikan perkara naluri sahaja tanpa dilandasi iman. Sehingga yang terjadi adalah penyatuan perasaan semata, tidak memiliki tujuan pernikahan melalui diskusi pemikiran. Selain karena mengikuti perasaan sebagian yang lain menikah musabab ada kemaslahatan yang hendak diambilnya entah itu perkara politik demi kekuasaan atau pun perkara ekonomi untuk menunjang terpenuhinya materi dan tercukupinya gengsi. Pada kasus mutilasi istri oleh suaminya sendiri di Sumba diduga lantaran adanya rasa kecemburuan. Meskipun dalam hal ini Polisi belum bisa memastikan kebenaran nya, sebab pelaku belum memberi detail motif pembunuhan sadis terhadap istrinya tersebut. 

Era di mana kehidupan sosial diatur oleh sekularisme-liberalisme nyatanya tidak sanggup memberikan progress yang berarti bagi tatanan kemasyarakatan. Pasalnya justru di saat agama dipisahkan dari pengaturan terhadap kehidupan sosial, hasilnya justru manusia dengan sekehendaknya berbuat tanpa pandang batas pahala dan/atau dosa. Sehingga setiap keputusan hidup diambil bukan lagi merujuk pada aspek keagamaan, melainkan keputusan spontan demi menuruti gharizahnya.

Dalam kehidupan masyarakat kini kental dengan liberalisme dimana kebebasan individu berada di atas segala-galanya. Hal itu membuat masyarakat kian gelap mata memisahkan kebenaran dengan kebathilan. Cenderung bertindak bebas tanpa mengikatkan diri pada aturan agama. Dengan demikian setiap orang bebas melakukan hal apa pun selagi tidak mengganggu stabilitas negara, atau masyarakat sekitar secara khusus. Inilah yang juga mendorong sikap manusia kian bertindak brutal bahkan cenderung tidak manusiawi. Karena keputusan tersebut diambil lantaran ia merasa bebas menentukan apa yang ia lakukan tanpa dibayangi pahala dan dosa lagi. Ia cenderung membenarkan perilakunya musabab mengedepankan ego, perasaan, serta naluri tanpa mempertimbangkan aspek keagamaan secara menyeluruh.
Padahal, diketahui sebelum pelaku dinaikkan status menjadi tersangka. Pada awalnya penemuan mayat korban SA tersebut ditenukan lantaran warga merasa curiga dengan bau busuk menyengat yang berasal dari kontrakan korban dan pelaku. Pelaku diketahui usai melaksanakan shalat jum'at saat dipanggil untuk melihat keadaan kontrakan yang di dalamnya mendekam mayat istrinya yang telah terpotong-potong di dalam coolbox, dan sebagian lain ada di dalam lemari pendingin. Perlu kita ketahui bahwa pelaku MS ternyata akrab dengan masjid dengan bukti ia melaksanakan salah satu kewajiban seorang lelaki dengan mendirikan sholat jum'at di masjid. Lalu, mengapa orang yang akrab dengan ibadah hingga tega berbuat demikian sadis terhadap istrinya sendiri? Hal ini tak lain disebabkan karena aturan agama telah dipisahkan dari aturan kehidupan. Aturan agama dipersempit maknanya hingga hanya meliputi ibadah, pernikahan dan pewarisan. Sedangkan dalam aturan kehidupan manusia bebas menentukan tindakannya sebagaimana aturan liberalisme, dari segi ekonomi berjalan sistem pemilik modal sebagai pemegang harga pasar sebagai mana kapitalisme. Sedangkan dalam politik diterapkan sistem suara terbanyak adalah penentu kebijakan atau dikenal baik dengan demokrasi.

Kasus mutilasi ini adalah salah satu pengaruh ketika manusia tidak lagi berpegang pada tali agama Allaah. Sekehendaknya sendiri lebih bangga dengan selundupan pemikiran yang sangat beracun, sebab berhasil memporak-porandakan sebuah negara besar meliputi 2/3 belahan dunia. Negara berasaskan Islam ini tumbang sebab keropos dari dalam, pengeroposan terjadi sebab dari pemikiran yang diselundupkan oleh musuh-musuh Islam kala itu yang menyerukan kebebasan, perdamaian, serta kesetaraan. Dampak dari abad ke-17 tersebut nyatanya masih bersenyawa dengan sangat kuat pada hari ini. Dimana gaung kebebasan menggema di seluruh belahan dunia. Kebebasan tanpa batas, tanpa terikat aturan agama yang pada kenyataannya melahirkan manusia-manusia krisis akhlak hingga manusia-manusia yang tega bertindak biadab.
Adapun terkait sanksi yang diterapkan berupa penjara, tidaklah sanggup memberantas kasus pembunuhan mutilasi. Hukuman ini tidak memberikan efek jera terhadap pelaku, serta tidak dapat mencegah pihak lain untuk melakukan hal yang sama. Sebab hukumannya tidak sebanding dengan perlakuannya.

Pandangan Islam 
Syariat Islam yang mulia telah datang salah satunya untuk menjaga nyawa manusia. Nyawa seorang muslim memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Namun manusia yang dzolim ini telah banyak menyalahi syariat Allah SWT. Nyawa manusia sekarang seakan sangat murah sekali. Berita tentang pembunuhan bukanlah hal asing lagi yang menghiasi berita di negara kita. Musabab cemburu saja sebuah nyawa bisa melayang dengan cara yang sangat tak terduga.  Padahal dengan tegas Allah subhanahu wa taala telah melarang pembunuhan bahkan mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat tegas, kekal dalam Jahanam, mendapatkan murka dan laknat Allah. Dan barang siapa yang membunuh seorang mumin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An Nisa: 93)

Namun demikian aturan terssbut kini telah dilupakan. Sebab sementara ini para penguasa muslim tidak lagi memilih berssnyawa dengan nafas Islam. Pasahal jika aturan Islam diterapkan secara keseluruhan dalam bingkai Khilafah seluruh nyawa manusia akan terjaga. Institusi Khilafah dengan pasti akan menjaga kemuliaan manusia dari segi 4 aspek yakni agama, akal, jiwa dan harta. 
Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw. dengan membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Seluruh interaksi antarmanusia diatur sedemikian rupa oleh syariah Islam sehingga bisa mewujudkan kebahagian bagi manusia dan harmoni seluruh alam semesta. Wujud kerahmatan Islam itu bisa tampak manakala Islam diterapkan secara sempurna (kâffah) dalam Negara Khilafah. Umat, baik secara individu dan berjamaah, akan terlindungi oleh Islam. Mengapa? Karena salah satu SyariatNya, Islam akan menjaga jiwa [hifzh al-nafs]. Tanpa syariah Islam, terbukti aturan manusia tak bisa mencegah dan tak bisa menjerakan manusia untuk berbuat aniaya terhadap orang lain; apakah bentuknya melukai, menyerang secara fisik, sampai membunuh jiwa. Kondisi seperti ini akan diminimalisasi oleh Islam. Khilafah akan menjaga setiap jiwa dari tindakan penganiayaan sesama manusia. Ini adalah implementasi dari firman Allah SWT: Sesungguhnya siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (QS al-Maidah [5]: 32). 

Alhasil, jika ada orang yang melanggar ketentuan ini, Islam akan menjatuhkan sanksi yang keras; bisa dalam bentuk diyat [tebusan darah] atau qishâsh [dibunuh]. Ini sesuai dengan firman Allah SWT: Di dalam qishâsh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa (QS al-Baqarah [5]: 179). Dengan begitu, darah dan jiwa manusia pun terjaga. Inilah kerahmatan Islam dalam menjaga setiap jiwa kaum Muslim. Wallaahu alam bish shawwab.(*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain: