Seorang warga Muara Angke, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, duduk termenung ketika banjir rob melanda pada Kamis (9/1). (CNN Indonesia)

Jakarta, Kupasonline -- Umroh (45) duduk di bangku kayu depan rumahnya di Kampung Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, pada Kamis (9/1). Pandangannya lurus ke depan di tengah kepungan banjir rob. Sesekali ia mengayunkan kaki bersepatu bot hijau.

Siang itu rumahnya sudah terendam banjir. Begitu pula jalanan di depan rumah. Sebagian warga yang melintas menenteng alas kaki agar tak basah. Meski rumahnya tergenang air, tidak terlihat kecemasan di wajah perempuan paruh baya tersebut.

"Sudah biasa di sini terjadi banjir rob, tadi sempat masuk ke rumah dan dapur," kata dia, Kamis (9/1).

Umroh tinggal di RT 006 RW 22, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan. Wilayah tersebut terletak di pesisir Jakarta. Saat masuk ke kawasan itu, terlihat berbagai macam proses pengolahan ikan yang dikerjakan warga. Aroma amis ikan cukup menusuk hidung.

Umroh bercerita, air mulai merendam rumahnya sekitar pukul 10.00 WIB. Daerah Muara Angke, memang beberapa kali terdampak rob atau banjir karena air laut pasang. Ini merupakan permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari muka air laut.

BMKG memperkirakan daerah pesisir Jakarta Utara akan mengalami air pasang maksimum pada 9-11 Januari 2020. Pasang maksimum akan terjadi sekitar pukul 10.00 WIB pada 9 Januari, pukul 10.00-11.00 WIB pada 10 Januari, dan pukul 11.00 WIB pada 11 Januari 2020. Air pasang maksimum ini berpotensi akan mengakibatkan rob dan bisa memperparah banjir di Jakarta.

"Ini belum tentu surut semua airnya sampai malam nanti," ujar dia.

Meskipun daerah tersebut sering banjir, ia mengaku tidak pernah mengungsi, sebab ketinggian air yang menggenang rumahnya paling tinggi hanya 30 sentimeter.

"Waktu tahun baru itu, sebetis tinggi airnya," ucap dia.

Sejak tahun baru hingga Kamis (9/1) ini, jalanan depan rumahnya selalu tergenang dan tak pernah kering. Selain karena air laut yang pasang, juga disebabkan wilayah Jakarta beberapa hari belakangan selalu diguyur hujan.

"Sudah surut, datang lagi, surut, datang lagi. Belum pernah kering sejak tahun baru," ucap dia.

Banjir rob memang melanda kawasan Muara Angke pada siang itu. Sejumlah rumah warga terendam air dengan ketinggian antara 30-50 sentimeter.

Tarwi, warga lainnya juga mengatakan banjir rob memang kerap melanda wilayah tersebut. Sama seperti Umroh, ia pun tak pernah mengungsi.

"Namanya juga rumah di pinggir laut, yang penting jangan sampai ombak besar aja," kata dia.

Ia mengatakan selama ini jika terjadi banjir rob, warga hanya menunggu hingga surut. Mereka bahkan nyaris tidak mengharapkan petugas pompa yang datang.

"Ditungguin aja, cuma agak lama. Apalagi kalau musim hujan," kata dia.

BMKG Memperkirakan, Allah Menentukan

Di tempat lain di pesisir Jakarta, pria berbadan tegap keluar dari balik pintu rumah bilik. Namanya Amir Jaya, Ketua RT 15 RW 17, Kampung Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Pluit, Jakarta Utara.

Kampung itu tengah ramai belakangan. Sebab Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa wilayah yang berpotensi terimbas banjir rob. Ketinggian air laut pada 9-11 Januari 2020 akan mencapai ketinggian maksimum di wilayah pesisir, termasuk Muara Baru.

Situs peta maritim BMKG mencatat, pada Kamis (9/1), ketinggian air pasang di kawasan pesisir Utara Jakarta akan mencapai ketinggian ombak hingga 2,5 meter.

Menurut situs yang sama, ketinggiannya akan mencapai puncak hingga 4 meter pada Sabtu (11/1). Untuk ketinggian itu, BMKG mengategorikannya sebagai gelombang tinggi dalam masa air pasang.

Amir bukan tidak tahu prakiraan cuaca dari BMKG. Kabar soal wilayahnya yang akan terimbas gelombang pasang air laut sudah tiga hari sebelumnya ia dengar melalui imbauan lurah dan pemerintah setempat. Oleh karenanya, warga setempat diimbau untuk tetap waspada.

"Harus juga siap siaga. Kan, ada yang dengar mau hujan apa," katanya saat ditemui.

Namun demikian, pria berkulit hitam legam dengan kumis tebal itu tidak khawatir. Sebab, menurut Amir, cerita banjir rob merendam rumah warga di kawasan Kampung Muara Baru sudah lama hilang sejak pembangunan Stasiun Pompa di Waduk Pluit.

"Enggak ada (air) yang masuk. Kita takutnya kalau itu belum dipagar (tanggul), kalau sekarang nyaman lah," katanya.

Sementara Ketua RW 17 Sudirman menilai prakiraan BMKG hanya sebuah ramalan. Bagi dia Tuhan lah yang menentukan.

"Itu kan cuma perkiraan. Yang menentukan kan Allah. Itu kan cuma prediksi. Yang menentukan Allah," kata Sudirman saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Sudirman justru sebelumnya tidak tahu soal perkiraan cuaca dari BMKG. Sejauh ini ia pun tak memberi imbauan kepada warga untuk tetap waspada.

Sebelumnya, Kepala Bidang Informasi Meteorologi Maritim Eko Prasetyo mengatakan wilayah Muara Baru berpotensi mengalami banjir rob dua kali dalam sebulan. Sementara Muara Karang termasuk daerah langganan terkena rob.

Berdasarkan pantauandi lapangan, ketinggian air pasang di pelabuhan Nizam Zachman Muara Baru, Penjaringan sudah naik. Namun tak sampai memasuki pemukiman warga. (*/wan)
 
Top
/* Pengunci navbar*/