Wabah Virus Corona yang melanda membuat harga bawang putih impor melonjak di sejumlah daerah.

Jakarta, Kupasonline -- Wabah Virus Corona yang melanda pasar global khususnya China membuat harga bawang putih melonjak di sejumlah daerah.

Harga bawang putih mencapai kisaran Rp50 ribu hingga Rp57 ribu per kilogram atau naik 77 persen dari harga pekan lalu di Kota Solo. Salah satu pedagang Pasar Legi, Sumarno mengatakan kenaikan mulai terjadi sejak Sabtu pekan lalu.

"Hampir setiap hari naik antara Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu," katanya, Kamis (6/2).

Pedagang mengatakan kiriman barang dari pemasok tidak mengalami penurunan. Namun pemasok menaikkan harga barang.

"Kalau dari kami tidak cari untung lebih. Untung kami ya cuma segitu-segitu saja," katanya.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Heru Sunardi mengatakan kenaikan harga bawang putih di Kota Bengawan dipicu oleh wabah virus corona novel di China. Seperti daerah lain di Indonesia, Solo juga menggantungkan pasokan bawang putih dari Negeri Tirai Bambu itu.

"Saya kira ini nasional ya. Tidak cuma di Solo saja," katanya.

Meski harga terus merangkak naik, Disdag belum berencana untuk melakukan operasi pasar. Menurut Heru, harga bawang putih saat ini masih dalam taraf yang wajar. Tahun lalu, harga bawang putih di Solo sempat mencapai Rp80 Ribu per kilogram.

"Kita masih menunggu kebijakan dari Pemerintah Pusat seperti apa. Kalau memang harus ada intervensi ya kita lakukan," katanya.

Heru mengimbau masyarakat tidak merespon berlebihan kenaikan harga ini. Ia menjamin pasokan bawang putih untuk Kota Solo masih aman untuk beberapa waktu ke depan. Saat ini Pemerintah Kota Solo terus berupaya mencari sumber-sumber pemasok alternatif selain China untuk memenuhi kebutuhan.

"Harganya memang mahal. Tapi pasokannya masih aman. Dari provinsi juga menjamin barangnya masih cukup," katanya.

Kenaikan harga ini sudah Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Solo saat inspeksi harga di pasar akhir Januari lalu. Pasalnya, pasokan bawang putih impor dari China menurun drastis sejak virus 2019-nCoV menyebar di sana. Padahal 95 persen kebutuhan bawang putih di Kota Solo dipenuhi dari impor.

"Rata-rata kita impor 20 kontainer setiap bulan. Tapi Januari ini kita hanya dapat 4 kontainer," kata Asisten Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Solo, Agus Sutrisno.


Selain di Solo, minimnya stok bawang putih impor di Cianjur, Jawa Barat menyebabkan harga eceran mengalami kenaikan dari Rp25.000 per kilogram menjadi Rp55.000 per kilogram.

"Kenaikan sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir karena pengaruh merebaknya virus corona dan larangan impor barang dari China, sehingga stok bawang putih minim di pasaran," kata Arif pedagang bawang putih di Pasar Induk Pasirhayam Cianjur, dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, tingginya harga pembelian dari agen yang semula per karung dengan berat 20 kilogram hanya Rp450.000 menjadi Rp960.000 per karung, sehingga harga eceran pun mengalami kenaikan.

Sayangnya, kenaikan harga tersebut tidak ditunjang dengan stok yang memadai. Sehingga stok pedagang di pasaran per hari tidak lebih dari 10 kilogram dan terpaksa berbelanja bawang putih lokal yang harganya cukup tinggi.

"Untuk menutupi kebutuhan, kami pakai bawang putih lokal yang harganya hampir sama dengan impor. Saat ini per hari kami hanya mendapat jatah 10 sampai 20 kilogram dari distributor," katanya.

Meskipun mengalami kenaikan, tambah dia, tingkat pemakaian hanya sedikit mengalami penurunan.

"Untuk penjualan masih lumayan tidak sampai sampai menurun drastis," katanya.

Hal senada terucap dari Sulaeman pedagang bawang putih di Pasar Muka-Ramayana, sejak satu pekan terakhir, pedagang kesulitan untuk mendapatkan stok bawang putih impor yang harganya lebih murah dari bawang putih lokal.

"Informasi dari distributor impor bawang putih untuk sementara dihentikan karena merebaknya virus corona di China. Ini menyebabkan stok minim dan berdampak terhadap harga yang melambung," katanya.

Dia dan ratusan pedagang di Cianjur, berharap pemberhentian impor tersebut tidak berlangsung lama agar harga bawang putih di pasaran kembali normal dengan stok melimpah seperti biasa. Hal yang serupa terjadi di Bandarlampung naik dari Rp30.000 per kilogram menjadi Rp47.000 per kilogram.

"Untuk saat ini stok barang masih ada namun hanya mampu bertahan hingga sepuluh hari ke depan saja," kata salah satu agen bawang putih di Pasar Tamin, Alex, di Bandarlampung.

Ia mengatakan bahwa saat ini para pedagang mendapatkan barang dari persediaan lama di gudang yang ada di Jakarta. Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandarlampung Adian membenarkan bahwa ada kenaikan pada harga bawang putih di pasar sejak masifnya pemberitaan soal virus corona.

"Kenaikan tersebut tidak hanya di Bandarlampung, tapi secara nasional harga bawang putih mengalami lonjakan sebab dihentikannya impor dari China," kata dia.

Ia mengatakan bahwa untuk stok barang impor pemerintah pusat telah menyatakan persediaan masih terbilang aman hingga akhir Februari. Sebenarnya di dalam negeri juga ada petani bawang putih, namun belum bisa memenuhi kebutuhan barang ini secara nasional.

"Maka dari itu kita impor ke China, yang jadi kendala saat situasi seperti ini petani dalam negeri sedang tidak panen karena terhambat oleh musim hujan dan juga cuaca ekstrem sehingga menyebabkan stok berkurang dan mempengaruhi harga di pasaran," jelasnya.

Adian mengatakan bahwa dalam kondisi seperti ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan provinsi agar stok bawang putih untuk Kota Bandarlampung ditambah sembari menunggu petani dalam negeri panen yang diperkirakan pada bulan Mei 2020.

"Yang pasti pedagang dan agen saat ini merasa khawatir akan kehabisan stok maka mereka mengurangi pengeluaran barangnya. Kita sudah ke lapangan dan mengimbau mereka untuk tidak menahan-nahan barang karena pemerintah pusat juga akan melakukan impor dari negara lainnya," kata dia. (*/wan)
 
Top
/* Pengunci navbar*/