Oleh : Masita (Pengiat Opini Media Muslimah Kolaka)

Diansir dalam Kumparan.Com_Nilai tukar rupiah kembali terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah hari ini berada diatas level RP 16.000, bahkan mendekati posisi terburuk krisis 1998. Pada Juni 1998, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada titik terendahnya di level RP 16.950. mengutip data Financial Times, Jumat (20/3), nilai tukar rupiah hari ini pada pukul 9.13 WIB bergerak tertekan di RP 15.950,00 terhadap dolar AS atau melemah 50,00 poin (0,31%). Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) berada di posisi RP 16.273. sementara itu, dalam transaksi konvensional di perbankan tanah air, sudah ada yang menjual dolar AS di posisi RP 16.550. 
Di tengah maraknya wabah virus corona yang mengguncang masyarakat, ternyata terjadi pula guncangan yang sangat dahsyat bagi ekonomi bangsa ini. Yakni nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang naik di level RP 16.000. Sungguh sangat menegangkan karena kondisi demikian jika dibiarkan akan mengguncang pertahanan ekonomi bangsa ini. Memang, kondisi demikian memiliki sisi positif dan negatifnya. Jika kita melihat melemahnya rupiah ini mampu menaikkan ekspor dalam negeri, ini akan membuat keuntungan yang bagus bagi sektor ekonomi dalam memenuhi pasar ekspor. Selain itu, membuat masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri dibandingkan milik luar negeri.
Hanya saja kondisi demikian memerlukan peran pemerintah dan Bank Indonesia untuk mengatur peredaran rupiah serta sosialisasi kepada masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri sehingga kondisi krisis seperti ini dapat ditangani. Tapi, sayangnya pemerintah tidak sepenuhnya mengambil jalan demikian, sosialisasi sekedar wacana dan juga semakin membuka kran impor yang luas karena banyaknya permintaan masyarakat atas minatnya yang lebih mencintai produk luar. Sehingga kondisi krisis ini semakin membuat bangsa ini semakin terpuruk, harga barang yang tidak stabil ditengah arus permintaan yang semakin deras. 

Masyarakat indonesia yang sangat konsumtif menjadikan ini sebagai peluang besar bagi pengusaha-pengusaha baik dalam maupun luar negeri melirik pasar indonesia untuk menawarkan berbagai macam produk unggulan yang berkualitas baik. Berbagai investor besar pun berbondong-bondong masuk untuk berinvestasi apalagi masyarakat hari ini sangat mencintai pariwasata. Sehingga bermacam infrastruktur pun dibangun dan berbagai wilayah yang ada menonjolkan potensi yang dimiliki.

Sektor pariwisata juga memiliki peran penting dalam membantu perekonomian indonesia dengah naiknya nilai tukar rupiah dengan membuka kran wisata mampu menaikkan APBN kita, karena turis akan berbondong-bondong datang. Namun, ditengah merebaknya virus corona ini solusi terbaik mengatasi krisis ekonomi ini adalah dengan menutup impor, memperbanyak ekpor setelah terpenuhi kebutuhan masyarakat, sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri, serta menahan laju rupiah sampai keadaan stabil. Jika tidak demikian, maka akan berpeluang besar krisis moneter tahun 1998 akan berulang yakni pemerintah gagal menanggulangi kriris moneter tersebut yang membuat rakyat semakin meledak dan melakukan aksi diberbagai daerah.

Benarlah jika memang demikian terjadi, sebab sistem pemerintahan hari ini lebih menguntungkan rakyat dibandingkan rakyat yang biasa. Kebijakan-kebijakan yang dibuat lebih memberatkan rakyat dalam arti prmilik modal, dibandingkan rakyat biasa. Kondisi yang terjadi justru di manfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan mereka, misalnya dengan keadaan ini bisa saja mereka melakukan penumpukan bahan atau dolar untuk ditukarkan saat rupiah melemah. Atau semakin membuka peluang investasi untuk membantu menopang ekonomi yang tengah berada di tepi jurang.
Inilah sistem kapitalisme yang menjadi induk sistem-sistem yang ada di seluruh Negara. Mengguncang bermacam kondisi baik ekonomi ataukah militer untuk semakin memperkokoh hegemoni mereka atas Negara-negara pengekor salah satunya indonesia, agar semakin tidak bisa berlepas diri dari sistem ini. Dan pemerintah tidak mampu untuk mengatasi masalah negaranya sendiri karena pendiktean oleh para kapitalisme. Wajar saja jika kondisi demikian orang-orang capital yang lebih di untungkan terutama AS itu sendiri yang mana mata uangnya menjadi poros standar perekonomian dunia. 

Kembali Kepada Islam
Sudah sewajarnya kita mencampakkan kapitalisme dan mengganti sistem kehidupan dengan yang lebih baik lagi yakni islam. Yang mampu mengatasi berbagai persoalan kehidupan baik keluarga bahkan Negara. Dan menjadikan dinar dan dirham sebagai alat tukar terbaik yang tetap menstabilkan pertahanan ekonomi suatu bangsa, karena nilai tukarnya yang sangat tinggi. 
Bukan itu saja sistem islam mampu mengelola perekonomian dengan baik yakni mengelola hasil yang ada diwilayah untuk kepentingan masyarakatnya dengan pengelolaan yang baik semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. Baru melakukan impor tatkala kebutuhan masyarakat terpenuhi. Menutup kran-kran impor yang dianggap berlebihan serta menarik investasi dengan lebih memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk dikelola sendiri berdasarkan asas kepemilikan yang di aturnya, yaitu Kepemilikan (Milikiyyah), Pengelolaan Kepemilikan (At-Tasharuf Al-Milikiyyah), dan Distribusi Kekayaan (Tauzi Ats-Tsarwah). Sehingga tidak akan terjadi penimbunan, serta melarang pejabat Negara untuk memiliki harta kekayaan yang lebih karena berpeluang untuk memanfaatkan posisinya layaknya yang terjadi di sistem hari ini. 

Walhasil, Islam mendorong adanya kemandirian ekonomi melalui pengaturan sistem kepemilikan. Liberalisasi ekonomi yang menyerahkan pengelolaan sumber daya alam milik umum dan negara kepada asing haram dilakukan. Negara wajib mengelola secara optimal sumber daya alam yang ada untuk kepentingan rakyat, sehingga terhindar dari ketergantungan dengan negara lain. Pun akhirnya, melalui kebijakan ini, penarikan pajak tak menjadi sumber pendapatan utama sebagaimana terjadi saat ini.

Ingatlah pula firman Allah: Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaha: 124). Wallahu alam.
 
Top