Oleh:Agamsyah

Aceh Simeulue, Kupasonline -- Sebuah  cerita di  salah satu kepulauan yang letak geografis nya bagian barat di bawa ujung Sumatera, Aceh. kepulauan itu juga akrab disebut Simeulue Ate Fulawan (red-Simeulue Berhati Emas). Kini berpenduduk kurang lebih sekitar 80.000 ribu jiwa, 99  persen Islam. 

Kepulauan Simeulue dulunya bagian wilayah Kabupaten Aceh Barat,  menjadi kabupaten otonom pada tahun 1999 hingga hari ini. Kabupaten Simeulue sejak dimekarkan hingga tahun 2012 berkembang pesat. Puncaknya saat pulau ini dinakhodai oleh Bupati Drs. Darmili dan Drs. Almarhum Ibnu Abban GT Ulma.

Massa Infrastruktur, jalan dan jembatan, perkantoran, Rumah Sakit, Puskesmas dan Pustu ada di semua desa, Rumah Sekolah Permanen demikian. Perobatan gratis untuk rakyat juga dimulai dari sini plus anak sekolah tamat SMU sederajat dengan pola kerja sama dikuliahkan Pemkab Simeulue dengan fakultas fakultas bergengsi di tanah air, tak kecuali, di IPB, UGM, UNPAD, USU dan lain lain.

Kemudian  menunjang eksistensi sarana prasarana  yang terus dibangun oleh pemerintah pada masa itu yang digenjot Bupati Darmili juga dijuluki oleh beberapa Pejabat dan Tokoh Masyarakat di Ibukota Provinsi Aceh bahkan Pusat Darmili Bapak Pembangunan Simeulue, membantu Panglima Darurat Miliar Daerah (PDMD) membuka sebuah lapangan kerja,  disebut masyarakat Simeulue Perusahaan Daerah Kabupaten Simeulue (PDKS). 

Kala itu ribuan masyarakat Simeulue yang pengangguran bekerja di PDKS bahkan ratusan KK putra putri Simeulue yang eksodus keluar Simeulue tatkala Simeulue dilanda Paceklik sebelum jadi Kabupaten saat PDKS berdiri kembali ke Simeulue untuk bekerjasama di PDKS itu.

Perusahaan ini diawal direncanakan selain untuk lapangan kerja bagi masyarakat, mendongkrak perekonomian warga juga kelak bisa menjadi pundi-pundi keuangan Daerah yang selama ini dan bahkan hingga 2020 untuk bayar gaji ASN saja masih mengharapkan belas kasih dari pusat bagi Hasil Daerah lain.

Diakui saat itu masyarakat bangga terhadap kepemimpinan Darmili, pujian pun mengalir padanya telah membuka lapangan kerja terhadap masyarakat Simeulue, namun pujian itu sedikit meredup seiring sang  mantan Bupati dua periode itu  memindahkan pelabuhan kapal feri yang dulunya di pusat kota dengan sebutan Simpang Lima ke Kolok dengan alibi akan memperluas kota Kabupaten Simeulue. 

Massa itu kebijakan ini alih-alih dapat pujian malah sang mantan Bupati Simeulue dua periode itu dibarengi oleh penggiringan opini lawan politik membuat kekecewaan masyarakat. Massa itu banyak yang tidak menginginkan pelabuhan kapal feri tersebut dipindah ke pelabuhan kolok. Hingga pada tahun 2012 masa kepemimpinan mantan Bupati Darmili, pun berakhir. 

Sekedar Napak Tilas, Kontes politik pun dimulai, beberapa balon Bupati bermunculan untuk merebut orang nomor satu di Simeulue itu. Dengan janji kampanye salah satunya akan memindahkan Pelabuhan kapal Feri dari  Kolok ke  Dermaga Cargo  kandidat Bupati dan wakil Bupati 2012/2017 dimenangkan oleh pasangan Riswan. Ns & Hasrul Edyar. 


Nah kaitannya dengan PDKS Pasca beberapa waktu menjabat sebagai Bupati & Wakil Bupati Simeulue, Riswan. Ns dan Hasrul Edyar, selain tak kunjung mengembalikan pelabuhan kapal Feri dari Kolok ke Cargo, seperti janji pada saat kampanye, juga tanpa dinanya dan diluar nalar sehat Perusahaan Daerah Kabupaten Simeulue (PDKS) pun tiba tiba menyeruak kabar  telah dialih tangan kan ke pihak ke pihak lain ke PT Kasamaganda.

Masih terekam jelas, waktu itu sebagian masyarakat Simeulue menyayangkan, protes khususnya para pekerja yang menggantung kan asa pribadi dan keluarga di PDKS. Mereka berunjuk rasa untuk  meminta agar PDKS bisa dikembalikan kepada daerah dan dapat dikelola kembali. 

Lantas tak begitu tahu cerita nya hingga habis jabatan Bupati Riswan. Ns dan Wakil Bupati Hasrul Edyar, Perusahaan Daerah Kabupaten Simeulue (PDKS) tak kunjung kembali, Riswan. Ns ikut juga menjadi balon pada waktu itu. Namun diduga kekecewaan masyarakat Simeulue kepadanya yang telah mengalihkan PDKS selain tak terbendung, sehingga harus berlapang dada menerima kekalahan bertengger di posisi kedua perolehan suara. 

Pada saat kampanye 2017 di Simeulue para Balon Bupati menjadikan PDKS pun menjadi komoditas, 'senjata' mencari simpati masyarakat. Sebuah pasangan yang kemudian memenangkan Konstestan masa itu yakni Pasangan Erli Hasim dan Afridawati yang mengusung selogan Simeulue Sejahtera kalau tidak salah dalam kampanye mereka menjanjikan seratus hari kerja pertama, PDKS akan dikembalikan sehingga daerah dapat mengelola kembali hasil PDKS tersebut. 

Sayangnya hingga kini wacana mengembalikan PDKS kepada daerah oleh Pasangan kandidat Bupati dan Wakil Bupati Erli Hasyim & Arfridawati belum terwujud malahan sebagai mana di media mereka tersiar sudah pecah kongsi bahkan sempat cekcok hampir adu jotos hingga perang statemen di medsos pun bak jamur di musim hujan.

Tak hanya itu hal memilukan pun terjadi setelah beredar dikalangan masyarakat Simeulue soal video tak layak dipertontonkan yang berdurasi 1,38 detik yang diduga diperankan oleh Bupati Simeulue Erli Hasyim, hingga anggota DPRK Simeulue membuka Rapat Dengar pendapat (RDP) berlanjut hasil rapat DPRK tersebut memutuskan untuk memakzulkan sang Bupati. 


Tidak sampai disitu saja, hasil rapat DPRK itupun dibawa ke Mahkamah Agung (MA) di Jakarta Pusat, namun pengajuan DRPK karena diduga belum memenuhi sistem administrasi sehingga berkasnya tidak dapat diterima oleh MA bukan ditolak sejatinya bisa diperbaiki tapi entah kenapa sejak berganti pimpinan dan sebagian besar anggota DPRK Simeulue 2019 seakan semua itu menjadi adem, Erli Hasim pun tampak tak belum beranjak dari singgasananya.

Teranyar amatan penulis di lapangan terlihat masyarakat Simeulue, sepertinya  terpecah terbagi dua sisi bahkan lebih. Sebagian masyarakat tidak menginginkan lagi Erli Hasyim menjabat sebagai Bupati Simeulue, disisi lain juga masyarakat khususnya kerabat dan diduga menjabatan dan proyek masih banyak yang bertahan dan menginginkan untuk melanjutkan hingga akhir jabatannya nanti. Meskipun ada yang berpura pura untuk sekedar cari aman jabatan dan pekerjaan diduga sesungguhnya tak ingin lagi Bupati dijabat Erli Hasim. (*)
 
Top
/* Pengunci navbar*/