Oleh : Heni Andriani 
Ibu Pemerhati Umat dan Member AMK

Entah ada apa dengan para pemangku kekuasaan negeri ini disaat rakyat dihadapkan dengan wabah virus Covid 19 tiba-tiba saja dihebohkan dengan rencana datangnya TKA Cina sebanyak 500 yang akan masuk di wilayah Sulawesi Tenggara, 5 April 2020.
Kedatangan mereka menuai sorotan dari mayoritas anggota DPRD Sulawesi Tenggara dan anggota DPD RI.

Anggota DPD-RI Dapil Sultra, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan menegaskan, menolak kedatangan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA). Apalagi, kedatangan mereka rencananya mulai pekan ini secara bertahap.

“Saat ini, pemerintah kita harusnya fokus penanganan pandemi Covid-19, abaikan yang bisa menimbulkan polemik,” ujar Rabia, dikutip dari Liputan6.com, Minggu (3/5/2020).

Oleh karena itu, wajar jika Gubernur dan DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) satu suara menolak kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Cina yang rencananya masuk mulai pekan ini secara bertahap (kompas.com, 30/4/2020).

Kondisi ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Sulawesi Utara yang sudah masuk zona merah seharusnya fokus pada penanganan pandemi covid 19 bukan malah diperparah dengan diberikan izin oleh pemerintah pusat kepada para TKA Cina tersebut.

Akibatnya masyarakat melakukan penolakan dengan ancaman akan melakukan demonstrasi besar-besaran, bahkan Walikota Kendari siap meletakkan papan penghalang jalan untuk menghadang ( liputan6.com, 3/5/2020).

Seolah-olah negara kita kekurangan tenaga kerja hingga harus mendatangkan dari luar negeri. Bagi kita pasti akan bertanya ada apa di balik kedatangan TKA Cina hingga penguasa rela mengorbankan rakyatnya sendiri. Kedatangan TKA Cina yang merupakan asal mula virus Covid 19 ini terjadi akan menambah beban dihati rakyat.

Sungguh ironis apabila penguasa negeri ini terus menggenjot pekerja dari luar sementara di dalam negeri saja angka pengangguran semakin hari semakin membludak.
Sebelum terjadi wabah ini saja angka pengangguran dan gelombang PHK sudah sedemikian rupa apatah lagi sekarang.
angka pengangguran di Indonesia pada Februari 2020 saja mencapai 6,88 juta orang atau naik 60.000 orang (BPS, 5/5/2020).

Inilah akibat penerapan sistem Kapitalisme yang hanya memikirkan materi saja. Keuntungan yang menjadi standar kehidupannya dengan mementingkan para pemilik modal sehingga rakyat pun dikorbankan.

Jikalau penguasa ini mau serius tentu akan menutup akses yang akan mendatangkan penyebaran virus Covid 19. Berusaha sekuat tenaga melindungi rakyat agar terlindungi dan memiliki rasa nyaman ketika di rumah. Jangan menyuruh rakyat diam di rumah dengan memberikan sanksi apabila melanggar sementara aseng malah di datangkan dengan penuh keramahan.

Kita pun sering menyaksikan ketidakseriusan dan ketidaksinkronan antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini tentu menambah kebingungan rakyat. Adanya kebijakan PSBB yang diterapkan pun justru malah menambah persoalan baru di tengah masyarakat. Bahkan melihat kondisi masyarakat yang mengalami keluhan tidak bisa mencari penghidupan PSBB pun justru dilonggarkan.

Sistem Islam Solusi Tuntas permasalahan umat

Saat ini umat sangat membutuhkan solusi permasalahan yang mereka hadapi. Mendambakan tempat mengadukan segala kegelisahan jiwa dan memberi rasa aman. Bagi kita selaku umat Islam tentu jalan yang diambil adalah sistem yang berasal dari Sang Maha Pencipta. Sistem ini telah mampu menyelamatkan manusia secara umum tanpa melihat kasta ataupun yang lainnya.

Sistem Islam telah membuktikan bagaimana seorang penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya. Memberikan perhatian dan pemenuhan kebutuhan hidup pokok masyarakat baik dalam kondisi kena wabah maupun pascasarjana wabah. Segala sesuatu yang menghantarkan ke dalam kondisi kemadharatan akan dijauhkan.

Untuk masalah ketenagakerjaan negara akan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya demi kemaslahatan umat. Sementara itu negara memahamkan kepada laki-laki yang sudah akil balig untuk mencari nafkah secara ma'ruf. Dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan negara bertanggung jawab penuh.

Di dalam sejarah Islam suatu ketika Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra. memasuki sebuah mesjid luar waktu shalat lima waktu. Didapatinya ada dua orang yang sedang berdoa kepada Allah Swt. Umar ra lalu bertanya "Apa yang sedang kalian kerjakan, sedangkan orang - orang disana kini kini sedang sibuk bekerja? Mereka menjawab :" Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya kami adalah orang - orang yang bertawakal kepada Allah Swt. Mendengar jawaban tersebut, maka marahlah Umar, seraya berkata :"Kalian adalah orang - orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak. Kemudian Umar ra. mengusir mereka dari mesjid namun memberi harapan mereka setakar biji-bijian. Beliau katakan kepada mereka :"Tanamlah dan bertawakal  kepada Allah Swt.

Bahkan negara bukan hanya menjamin tersedianya kebutuhan pokok kepada yang normal fisiknya tetapi kepada yang mengalami disabilitas pun diberikan jaminan. Sehingga semua warga pun merasakan kesejahteraan.

Ketersediaan sumber daya alam dan potensi yang lainnya seharusnya untuk rakyat bukan justru diberikan kepada asing dan aseng.

Bahkan seharusnya negara saat ini mengkaji ulang hubungan dengan Cina yang sudah melakukan penyiksaan  menganiaya muslim uiyghur. Dengan mengevaluasi ulang hubungan diplomatik tentu tidak akan menyakiti kaum muslimin yang mayoritas ada negeri ini. Adanya eksploitasi  perlakuan buruk dan penyiksaan terhadap 14 anak buah kapal Indonesia oleh Cina dimana mereka harus bekerja 18 sehari, tidak diberi diberi air minum tawar, bekerja di laut selama 13 bulan bahkan 3 ABK yang meninggal di buang ke laut (BBC Indonesia, 7/5/2020) selayaknya negara menghentikan hubungan diplomatik dengan negara tersebut.

Sungguh hal ini sangat berbeda dengan sistem Islam yang sangat menentang berbagai hal yang mengandung kemadharatan serta ancaman atas stabilitas negara.

 Umat saat ini mengharapkan sesuatu yang memberikan kenyamanan dan ketentraman. Mengharapkan hal tersebut dalam sistem demokrasi sungguh sangat mustahil. Sudah selayaknya kita mencampakkan sistem sekuler Kapitalisme yang telah bnyak mengorbankan rakyat.

Wallahu a’lam bishshawab(*)
 
Top
/* Pengunci navbar*/