Perjodohan Kampus dan Industri Mengukuhkan Liberalisasi dalam Pendidikan

Oleh: Silmi Dhiyaulhaq, S.Pd Praktisi Pendidikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pada Januari 2020 lal...

Oleh: Silmi Dhiyaulhaq, S.Pd
Praktisi Pendidikan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pada Januari 2020 lalu telah meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar, kali ini ditujukan bagi pendidikan tinggi bertajuk Kampus Merdeka. Mendikbud menerangkan bahwa paket kebijakan Kampus Merdeka ini menjadi langkah awal dari rangkaian kebijakan untuk perguruan tinggi. Kampus Merdeka mengusung empat kebijakan di lingkup perguruan tinggi dan salah satunya adalah kemudahan PTN menjadi PTN-BH. 
PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) merupakan level tertinggi dari beberapa level PTN di Indonesia karena memiliki otonomi penuh dalam mengelola keuangan dan sumber daya, termasuk dosen dan tendik. PTN jenis ini beroperasi mirip dengan perusahaan-perusahaan BUMN. Beberapa kelemahan PTN BH, di antaranya, pemerintah akan mengurangi dana subsidi PTN. Untuk menutupi kelemahan tersebut perguruan tinggi negeri berbadan hukum diberikan keleluasaan dalam mencari dana tambahan dari pihak swasta guna menjalankan aktivitas kampus untuk pembangunan infrastruktur dan lainnya. Dengan adanya kerjasama dengan pihak swasta, PTN BH pun harus rela dimasuki oleh korporasi, misalnya mendirikan bangunan yang seharusnya tidak ada. Contohnya, bangunan restoran cepat saji, atau yang lain. Pihak swasta juga memberikan pengaruh keputusan yang dikeluarkan oleh pihak kampus. Dampaknya, tentu saja pihak swasta mempengaruhi kebijakan agar sesuai dengan motif ekonominya.
Kelemahan lainnya, adanya peningkatan biaya kuliah (UKT) di PTN-BH. Hal tersebut membuat seolah PTN-BH tidak lagi berpihak pada masyarakat golongan ekonomi bawah yang ingin menempuh pendidikan tinggi dan terkesan cenderung berpihak kepada golongan ekonomi menengah atas. Meski dengan alasan kenaikan biaya kuliah itu adalah untuk meningkatkan kualitas kampus. Pengelolaan keuangan secara mandiri juga memiliki efek negatif, yaitu bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi. Akhirnya semua berlomba-lomba untuk menjadi petinggi dalam PTN-BH tersebut yang terkadang tujuannya tak lagi tulus dan ikhlas untuk mengabdi mencerdaskan anak bangsa.
Setelah PTN dipermudah menjadi PTN-BH kini pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerjasama antara perguruan tinggi atau Kampus dengan industri. Menteri Nadiem juga menyampaikan, bahwa pihaknya juga mendorong berbagai macam program studi untuk melakukan ‘pernikahan massal’ secara mendalam dengan industri. Nadiem mengatakan ‘perjodohan massal’ antara pihak Kampus dan industri dilakukan hingga tahap kontrak rekrutmen mahasiswa di perusahaan, terkait peluang usaha. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya berpesan, salah satunya agar perguruan tinggi aktif untuk menjalin kerjasama dengan industri, termasuk kawasan industri terdekat. Menurut Jokowi, upaya tersebut bisa dilakukan universitas dengan cara membuka fakultas, departemen atau program studi terkait dengan jenis industri di kawasan tersebut. 

Bila kita cermati kebijakan yang digulirkan yaitu Kampus Merdeka dan rencana strategi perjodohan massal antara kampus dan industri dapat kita lihat betapa vulgar liberalisasi pendidikan di negeri ini. Orientasi pendidikan tinggi kini lebih diarahkan kepada profit. Pendidikan tinggi sebagai salah satu sub-sektor jasa pendidikan telah dijadikan komoditas ekonomi. Padahal kampus sejatinya tempat di mana kaum intelektual mendapatkan layanan pendidikan dan melakukan riset yang bermanfaat bagi bangsa, namun kini semua telah berubah menjadi sarana bisnis untuk menghasilkan profit yang besar. 

Kita ketahui bahwa pendidikan tinggi memiliki peranan penting untuk kemajuan negeri namun ketika liberalisme mencengkeram pendidikan menjadikan pendidikan tinggi sangat mahal harganya dan hanya dapat diakses oleh segelintir orang. Adanya perjodohan antara kampus dan industri merupakan implementasi konsep triple helix yaitu hilirisasi hasil pemikiran intelektual dalam bidang industri, sementara negara hanya berperan sebagai regulator saja. Ketika karya intelektual disatukan dengan kepentingan bisnis yang berprinsip untung rugi menjadikan konsep hilirisasi triple helix hanya akan dinikmati oleh segelintir orang, jauh dari kemaslahatan umat. 
Liberalisasi di pendidikan tinggi ini harus dicermati dan dikritisi oleh semua pihak, khususnya mereka yang berwenang dan berkecimpung di dunia pendidikan tinggi. Mengapa? Ada setidaknya 2 (dua) alasan. Pertama, karena liberalisasi pendidikan merupakan suatu proses konspiratif (kongkalikong) yang jahat. Kedua, karena liberalisasi pendidikan menimbulkan dampak-dampak destruktif yang berbahaya termasuk disorientasi arah pendidikan. Pemerintah semakin mengokohkan peran lembaga pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi industri dan menguntungkan korporasi.

Berorientasi Industri, Pendidikan Minus Visi
Pendidikan dalam Islam merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi sebagaimana kebutuhan makan, minum, pakaian, rumah, kesehatan, dan sebagainya. Negara wajib menjamin pendidikan bagi seluruh warga dengan murah/gratis serta memberikan kesempatan kepada warganya untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara murah/gratis dengan fasilitas sebaik mungkin (An Nabhani,Ad-Dawlah al-Islâmiyyah, hlm. 283-284).

Menyelaraskan kurikulum perguruan tinggi dengan industri juga berbahaya.  Sebab, akan mengubah paradigma pendidikan itu sendiri. Pendidikan bisa menjadi alat bagi makin berkuasanya para korporat.  Negara akan makin kapitalis dengan filosofi ini.  Dengan demikian, konsep ini makin menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia bercorak kapitalisme liberal. Pendidikan tinggi seharusnya dirancang untuk menghasilkan kaum intelektual di berbagai bidang kehidupan dengan riset yang bisa digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk melayani korporasi.  Mereka bukanlah budak (sapi perah) para pelaku usaha dan industri
Kondisi ini juga menunjukkan lemahnya peran negara.  Selama ini negara tidak memerankan perannya secara dominan, bahkan lebih bergantung kepada perusahaan swasta. Negara hanya berperan sebagai regulator, pendukung dan katalis. Umat membutuhkan sistem pendidikan Islam.  Sistem pendidikan Islam didasarkan oleh akidah Islam.  Kurikulum dibuat untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sahih.  Yaitu, lahirnya manusia berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan.  Kemanfaatannya bagi seluruh manusia, bukan korporasi (swasta, apalagi asing) yang cenderung menguasai hajat hidup manusia seluruhnya.

Dalam pencarian Ilmu, Islam memberikan sejumlah motivasi dan guideline agar selalu berjalan sesuai hukum syara’. Pada masyarakat muslim, penggunaan teknologi pun akan dibatasi oleh hukum syara’. Teknologi hanya akan digunakan untuk memanusiakan manusia, bukan memperbudaknya. Teknologi digunakan untuk menjadikan Islam rahmatan lil alamin, bukan untuk menjajah negeri-negeri lain.

Adapun mengenai kebijakan riset di negeri Islam, terdapat kebijakan jangka pendek dan jangka panjang yang bisa dilakukan dalam lingkup individu, masyarakat (kelompok) dan negara. Kebijakan jangka pendek lebih menjadi domain individu ilmuwan muslim yang memiliki komitmen dengan perkembangan sains dan teknologi di negeri Islam. Dalam hal ini, mereka harus memberi teladan melalui produktifitas risetnya, profesionalismenya serta usahanya yang tak kenal lelah menyosialisasikan budaya ilmiah pada masyarakat. Sedangkan peran dari masyarakat (kelompok) adalah mendesakkan agenda-agenda kebijakan ilmiah kepada pemerintah serta mengubah opini masyarakat luas sehingga ikut mendukung kultur ilmiah dan kebijakan ilmiah dari negara nantinya.
Sementara itu, dalam jangka panjang, negara mengambil sejumlah kebijakan yang mampu menciptakan atmosfer yang mendukung kiprah para ilmuwan muslim, menjamin keberlangsungan profesi ilmiah, berikut penghargaannya. Negara memberikan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu dan riset. Negara menyediakan fasilitas (sarana dan prasarana) berupa jaminan pendidikan dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi.
Sejarah ilmu pengetahuan juga mencatat bahwa dunia Islam pernah mencapai penguasaan gemilang di bidang sains dan teknologi. Dapat kita temukan sederet nama ilmuwan masyhur seperti Ibn Battuta (geografi), Ar-Razi (pediatrik), Ibnu Sina (kedokteran), Ibn Al-Haytham (fisika-optik), Banu Musa (teknik), Ibnu Yunus (astronomi), Ibnu Hayyan (kimia), Al Khawarizmi (matematika), dan banyak lagi yang lain. Kecemerlangan ini dapat diperoleh ketika Islam tidak dianggap sekedar agama ritual, namun diterapkan secara menyeluruh (kaaffah).

Walhasil, jelaslah hanya sistem pendidikan Islam dan penerapan Syari’at Islam yang akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia seluruhnya dan mengeluarkan negeri ini dari cengkeraman kapitalisme global yang menyengsarakan. Wallahu’alam bishshawab(*)

Berita Terkait

Name

Aceh,45,Advetorial,42,Agam,23,Bali,2,Bangka Belitung,116,Bukittinggi,36,Covid-19,89,Dharmasraya,6,Edukasi,7,Ekonomi,154,Headline,26,Hiburan,11,Hukrim,243,Hukum dan Kriminal,19,Internasional,76,Jakarta,5,Jawa barat,2,Jawa Tengah,16,Jawa Timur,3,Kalimantan Selatan,145,Kampar,51,Kepulauan Riau,8,Kesehatan,53,Kuliner,33,Lifestyle,116,Limapuluhkota,21,Medan,11,Mentawai,154,Nasional,145,Olahraga,88,Opini,84,Padang,117,Padang Panjang,13,Padang Pariaman,11,Papua,1,pariaman,11,Pariwisata,15,Parlemen,200,Pasaman,33,Pasaman Barat,162,Payakumbuh,59,Pendidikan,30,Peristiwa,35,Pesisir Selatan,47,Politik,45,Riau,92,Sawahlunto,45,Sijunjung,81,Solok,108,Solok Selatan,26,Sosial Budaya,1,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tenggara,12,Sumatera Selatan,31,Sumatra utara,1,Sumbar,514,Tanah Datar,15,TMMD,577,TMMD Brebes,240,TMMD Karang Anyar,239,TMMD Kendal,430,TMMD Malinau,429,
ltr
item
KUPASONLINE.COM: Perjodohan Kampus dan Industri Mengukuhkan Liberalisasi dalam Pendidikan
Perjodohan Kampus dan Industri Mengukuhkan Liberalisasi dalam Pendidikan
https://1.bp.blogspot.com/-xa_RwToafsw/Xwh0oUdKcCI/AAAAAAAASu4/u3hkBtXzp7s_uwG1OITem8YX3WXzvZyMgCLcBGAsYHQ/s400/IMG-20200710-WA0033.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-xa_RwToafsw/Xwh0oUdKcCI/AAAAAAAASu4/u3hkBtXzp7s_uwG1OITem8YX3WXzvZyMgCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20200710-WA0033.jpg
KUPASONLINE.COM
https://www.kupasonline.com/2020/07/perjodohan-kampus-dan-industri.html
https://www.kupasonline.com/
https://www.kupasonline.com/
https://www.kupasonline.com/2020/07/perjodohan-kampus-dan-industri.html
true
4972569365485151097
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content