Pilkada Di tengah Corona, Klaster Baru Penyebaran Virus?

Oleh : Siti Ningrum, M.Pd. Sudah hampir empat bulan lebih Indonesia dalam cengkraman corona (covid-19), beberapa solusi telah diberla...

Oleh : Siti Ningrum, M.Pd.

Sudah hampir empat bulan lebih Indonesia dalam cengkraman corona (covid-19), beberapa solusi telah diberlakukan untuk menanggalungi wabah ini. Namun ternyata sampai hari ini kurva yang terpapar corona belum melandai, melainkan cenderung naik meskipun di beberapa daerah sudah terdapat zona hijau.  
Di saat masyarakat masih bingung dengan keadaan pandemi yang belum berakhir. Namun, anehnya disisi lain pemerintah membuat kebijakan tentang pilihan kepala daerah (pilkada) di tengah corona yang masih melanda, pemerintah menyepakati pilkada  serentak akan digelar 9 Desember 2020. Meskipun corona masih ada maka pelaksanaanya akan diberlakukan protokol kesehatan. ( wartakotalive.com, 28/05/2020).

Dari pernyataan di atas, seolah-olah pemerintah, juga KPU dan yang terkait dengan kegiatan pilkada ini terkesan memaksakan. Padahal kita masih ingat pemilu presiden tahun lalu banyak memakan korban, 894 petugas yang meninggal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit. (Kompas.com 20/01/2020)

Apalagi saat ini disaat corona masih melanda negeri,  mengapa pilkada tetap harus diadakan. Apakah ingin memanfaatkan situasi agar bisa tercipta money politic. Mengingat masyarakat tengah terhimpit ekonomi yang begitu sulit, sehingga suara rakyat bisa terbeli. Atau juga terkait dana anggaran pilkada yang  begitu fantastis, atau juga untuk melanggengkan kekuasaan dan para pengusaha. Sudah dapat dipastikan semuanya bukan untuk kepentingan rakyat semata.

Dilansir dari wartakotalive.com,  28/05/2020. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan, bahwasannya jika Indonesia mengadakan pemilu di akhir tahun menjadi negara yang terakhir dari 47 negara yang melaksanakan pesta demokrasi. 

Dari sani saja Indonesia terlihat nyata sekali masih menjadi negara pengekor. 
Seharusnya pemerintah tidak gegabah, meskipun dalam pelaksanaannya dianjurkan untuk memakai protokol kesehatan dan tidak menjadi jaminan bahwa virus corona tidak akan menyebar kepada rakyat. Mengingat penyebaran corona yang begitu masif, apalagi jika pilkada diadakan sudah barang tentu kerumunan masa tidak bisa dihindari lagi. Apakah dengan tetap dilaksanakannya pilkada di tengah corona melanda, telah membuktikan bahwa sistem Kapitalisme telah gagal dalam mengurusi urusan rakyat sebab sistem ini hanya merupakan tatanan kehidupan yang mengedepankan korporasi.

Memilih Pemimpin Dalam Sistem Kapitalisme 
Sistem yang dipakai di dunia tak terkecuali Indonesia adalah sistem demokrasi- kapitalisme-sekuler. Dimana rakyat bukan menjadi tujuan utama, melainkan menumpuk kekayaan untuk diri dan keluarga serta para pengusaha yang menggandeng tangan dengan penguasa. Rakyat hanya dijadikan tumbal saja. Ini terbukti dari banyaknya kematian anggota KPPS yang sampai saat ini pun tidak jelas seperti apa penanganannya. 

Dalam sistem Kapitalisme materilah yang menjadi tujuan utama, tidak peduli meski harus ditebus dengan nyawa rakyat sekalipun. Begitu murahnya harga sebuah nyawa. Setiap kebijakan yang diambil selalu merugikan rakyat, intinya hanya untung rugi saja yang dipikirkan. 

Dalam penanganan wabah corona pun begitu kentara sekali, demi memulihkan perekonomian negeri new normal pun diberlakukan, padahal kasus corona masih meninggi. Tidak bisa terbayangkan saat corona masih melanda pilkada tetap diadakan. Akan bertambah berapa lagi korban yang akan terpapar? Bahkan akan membuka klaster baru penyebaran virus. 

Pilkada dalam sistem Kapitalisme memerlukan biaya yang sangat mahal. Sebab didalamnya ada biaya kampanye, membiayai partai pendukung juga terkadang untuk membeli suara rakyat. Bisa dipastikan anggarannya lebih besar untuk tahun ini. Padahal rakyat lebih membutuhkan bantuan sosial yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Apalagi dengan adanya Covid-19, KPU meminta tambahan anggaran mencapai Rp 535,9 miliar. Dana itu untuk membeli perlengkapan kesehatan seperti alat pelindung diri (APD), masker, sarung tangan, hand sanitizer, dan sebagainya. (Beritasatu.20/6/2020)
Belum lagi ketika menang dalam pilkada, urusan rakyat bukan hal yang utama melainkan berpikir bagaimana mengembalikan uang modal yang telah dikeluarkan  bukan berpikir bagaimana menjalankan amanah yang sudah berada dipundaknya. Yang pada akhirnya akan menimbulkan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Bagi yang tidak memenangkan pertarungan di Pilkada akhirnya banyak yang stres/gila, sebab mereka telah mengeluarkan biaya yang sangat mahal. Sungguh miris jika kita melihat fakta yang terjadi di Indonesia, dan ini membuktikan bahwa sistem Kapitalisme telah gagal dalam hal mengurusi urusan rakyat.

Memilih Pemimpin Dalam Timbangan Syariat Islam 

Memilih pemimpin adalah sebuah kewajiban sebab dengan adanya kepemimpinan tersebut, sistem ketatanegaraan suatu negara bisa berjalan dengan baik. Dalam Islam ada yang dinamakan pemimpin. Pemimpin suatu negara yang dinamakan khalifah. Teknik pemilihannya melalui musyawarah. Seperti yang dilakukan oleh para sahabat ketika memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama.

Ada juga yang dinamakan sebagai Mu'awin Tafwid (wuzara' at-tafwidh) yaitu orang yang membantu seorang khalifah. Dimana mereka diberi kewenangan untuk memimpin suatu wilayah. 
Dalam teknis pemilihannya langsung dipilih oleh Khalifah. Seperti yang dilakukan khalifah Umar bin Khatab mengangkat Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Seperti halnya Rasulullah saw. mengangkat Abu Bakar As-Shidiq dan Umar bin Khattab semasa hidupnya  kemudian menjadi pijakan para sahabat dalam hal menentukan para pemimpin. (Ajhizatu ad-Daulah alkhilafah/ Struktur Negara Khilfah: 91).

Juga dalam pemilihan kepala daerah ( disebut wali) gubernur setingkat provinsi, semuanya ditunjuk langsung oleh seorang khalifah kecuali ada mandat dari seorang khalifah kepada mu'awin at-tafwidh dalam hal penunjukan para wali. (Ajhizatu ad-Daulah alkhilafah/ Struktur Negara Khilafah:118).

Demikianlah Islam mempunya metode tersendiri dalam proses pemilihan seorang pemimpin baik kepala negara atau pun kepala daerah. Hal pertama dalam segi pembiayaan, tidak memerlukan biaya sedikit pun. Kedua, dalam hal waktu,    tidak memerlukan waktu yang lama cukup tiga hari tiga malam saja. Ketiga, para pemimpin dalam Islam dalam hal ini seorang khalifah kemudian para muawin dan wali tidak diberikan gaji melainkan hanya santunan secukupnya saja. Sebab tujuan seorang pemimpin dalam Islam adalah semata-mata hanya untuk menjalankan hukum Allah. 

Jadi sangat jelas perbedaannya antara sistem Kapitalisme dan sistem Islam. Sistem Kapitalisme sudah tidak layak lagi dalam mengurusi urusan umat dan sudah terbukti kegagalannya karena tidak mampu mensejahterakan rakyat dalam berbagai hal. Sementara Islam mampu menjawab tantangan atau persoalan apapun dalam hal memecahkan problematika kehidupan manusia termasuk dalam hal pilkada. 

Sistem Islam tidak mengenal waktu dan tempat,  Islam adalah solusi sebab berasal dari sistem Illahi yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. sejarah pun sudah mencatat kegemilangan Islam dalam peradabannya. 
Allah Swt. berfirman dalam Q.S. al-Ahzab: 21, yang artinya 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” 

Dan juga kita pun harus bersegera untuk menjalankan segala perintahNya juga menjauhi segala laranganNya (takwa) serta tidak menunda-nunda menuju ampunanNya agar rahmatNya diberikan kepada kita semua.
Serta kelak syurga yang dijanjikan Allah swt. Seperti Q.S Ali-Imran; 133, yang artinya:
 "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa"

Jadi tidak ada lagi keraguan pada wahyu illahi. Untuk itu saatnya menerapkan sistem Islam dalam semua kancah kehidupan. 

Wallahu a’lam  bishowwab(*)

Berita Terkait

Name

Aceh,45,Advetorial,42,Agam,23,Bali,2,Bangka Belitung,118,Bukittinggi,37,Covid-19,100,Dharmasraya,6,Edukasi,7,Ekonomi,161,Headline,46,Hiburan,20,Hukrim,253,Hukum dan Kriminal,19,Internasional,82,Jakarta,5,Jawa barat,2,Jawa Tengah,18,Jawa Timur,3,Kalimantan Selatan,145,Kampar,51,Kepulauan Riau,8,Kesehatan,56,Kuliner,34,Lifestyle,123,Limapuluhkota,21,Medan,11,Mentawai,160,Nasional,171,Olahraga,92,Opini,84,Padang,121,Padang Panjang,13,Padang Pariaman,11,Papua,1,pariaman,12,Pariwisata,17,Parlemen,200,Pasaman,33,Pasaman Barat,162,Payakumbuh,60,Pendidikan,32,Peristiwa,37,Pesisir Selatan,50,Politik,48,Riau,92,Sawahlunto,45,Sijunjung,81,Solok,109,Solok Selatan,26,Sosial Budaya,1,Sulawesi Selatan,4,Sulawesi Tenggara,12,Sumatera Selatan,31,Sumatra utara,1,Sumbar,524,Tanah Datar,16,Tips dan Trik,4,tmm,1,TMMD,577,TMMD Brebes,305,TMMD Karang Anyar,457,TMMD Kendal,527,TMMD Malinau,440,
ltr
item
KUPASONLINE.COM: Pilkada Di tengah Corona, Klaster Baru Penyebaran Virus?
Pilkada Di tengah Corona, Klaster Baru Penyebaran Virus?
https://1.bp.blogspot.com/-5RErnsVPjVQ/Xwf1Ak3SKjI/AAAAAAAASr0/j7_qKz4e-98aAPfZPMK2veGCxx9_keVSQCLcBGAsYHQ/s320/IMG-20200710-WA0012.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-5RErnsVPjVQ/Xwf1Ak3SKjI/AAAAAAAASr0/j7_qKz4e-98aAPfZPMK2veGCxx9_keVSQCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20200710-WA0012.jpg
KUPASONLINE.COM
https://www.kupasonline.com/2020/07/pilkada-di-tengah-corona-klaster-baru.html
https://www.kupasonline.com/
https://www.kupasonline.com/
https://www.kupasonline.com/2020/07/pilkada-di-tengah-corona-klaster-baru.html
true
4972569365485151097
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content