Surabaya, Kupasonline -- T (bukan nama sebenarnya), ingat betul kejadian dugaan pelecehan seksual oleh oknum mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Gilang, lima tahun yang lalu. Kala itu, T dan Gilang merupakan kawan satu kampus di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair.

Pada suatu malam, di tahun 2015, ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya, mendapati badannya kaku, rapat terbungkus kain. Kala itu T mencoba melawan, tapi tubuhnya lemas tak bisa berbuat apa-apa.

T merupakan salah satu terduga korban aksi Gilang yang kini tengah tersangkut dugaan pelecehan seksual, bungkus kain jarik.

T menuturkan, kejadian itu bermula saat ia dan Gilang sama-sama tengah mengikuti kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) sebagai mahasiswa baru di FIB Unair, Surabaya, 2015 silam.

"Pertama kali ketemu itu pas awal-awal masuk kuliah tahun 2015, pas pengukuhan mahasiswa baru," kata T, Minggu (2/8).

Dia bercerita, semula merasa tak ada yang aneh saat berkenalan dengan Gilang. Seiring perjalanan waktu, mereka dan teman-teman lainnya pun kerap kali jalan dan makan bersama, seperti laiknya kawan kuliah biasa.

Hingga pada suatu malam ketika T menjadi korban yang yang diduga dilecehkan dengan dibungkus kain langsung oleh Gilang.

T bercerita kala itu mereka baru saja mengikuti acara di kampus yang rampung pada larut malam. T yang saat itu masih menumpang di rumah kerabatnya, tak bisa pulang sebab tak punya kendaraan pribadi, dan transportasi umum sudah tak beroperasi saking larutnya.

Di saat itulah, Gilang mengajak T agar menginap di kosannya yang memang jaraknya tak jauh dari kampus mereka.

"Saya menerima ajakan yang bersangkutan untuk nginep di kosnya, di daerah Gubeng," ujar T.

Di kos Gilang, keduanya kemudian sempat ngobrol sembari menyantap makan malam bersama. Tak ada yang aneh, T mengatakan semua berjalan normal. Usai itu, mereka pun memutuskan untuk tidur.

Namun di tengah lelap, T terjaga dan mendapati tubuhnya sudah terbungkus kain. Selain itu, kata dia, ia merasa ada yang meraba alat vitalnya.

"Saya enggak tahu itu pukul berapa, dan saya sempat terbangun dan mendapati tubuh saya sudah tertutupi kain. Di saat itu juga kondisi saya setengah sadar, jadi enggak sepenuhnya langsung bangun gitu, dan memang waktu itu saya merasa ada yang merabai area vital saya," ujar T.

Anehnya, saat mendapati tubuhnya terbungkus kain dan diraba di daerah vital, T mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya saat itu lemas. Ia pun belakangan menduga dirinya dalam pengaruh obat tidur, yang ditaruh Gilang di makanannya. Untuk membuka mata saja T merasa berat.

Keesokan harinya, usai benar-benar tersadar dan bangun dari tidurnya, T geram. Ia kemudian mencecar Gilang dengan pertanyaan apa yang terjadi semalam.

Mulanya, Gilang mengelak. Namun, T terus mendesak, dirinya tak percaya pada penuturan Gilang. Ia kemudian menceritakan secara detail soal apa yang dirasakannya. Gilang pun akhirnya mengakui perbuatannya.

"Dia mengelak. Saya ingat lagi, saya sempat merasakan ada yang memegangi area vital saya, istilahnya melakukan tindakan yang tidak senonoh lah, dan baru di situ dia mengakui dia melakukan hal itu," ujar T.

Pascakejadian itu, T pun menjauhi Gilang. Rasa benci dan trauma berkecamuk di dalam diri T. Ia juga sempat sungkan menceritakan kejadian itu ke siapapun. T menganggap apa yang menimpanya adalah sebuah aib.

Tapi, T hanya mau menceritakan kejadian tersebut, ke beberapa teman dekatnya. Dan, kala itu, T meminta mereka menjaga betul informasi itu, agar tak tersebar ke pihak manapun.

"Waktu itu kondisi saya lagi bingung, karena saya merasa itu adalah aib dan itu sifatnya sangat privat. Waktu itu saya tahan untuk diri sendiri, jadi saya keep untuk diri saya sendiri, yah walaupun itu memang ada beberapa teman saya yang akhirnya saya cerita ke mereka," ujarnya.

Kala itu, T juga tak melaporkan atau mengadukan hal itu ke Dekanat FIB Unair. Ia benar-benar bingung dan tak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Untuk masalah saya lapor ke fakultas saya tidak terpikir, karena ya itu tadi, saya terlanjur bingung, saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan," ucapnya.

Cerita itu disimpan T dalam-dalam selama hampir lima tahun lamanya. Namun, baru-baru ini, seorang terduga korban pelecehan seksual Gilang, lainnya, mulai menyuarakan apa yang telah dialami.

Oleh karena itu, T merasa ia juga harus bersuara agar tak ada lagi korban lainnya.

"Ini waktunya saya speak up juga, karena di satu sisi saya tidak ingin adanya korban lagi, di satu sisi saya tidak ingin nama almamater saya jelek," katanya.

Dengan kejadian ini, T berharap, agar Gilang mendapatkan hukuman yang setimpal akibat perbuatannya yang telah merugikan banyak orang.

Selain itu, ia juga berharap masyarakat sadar bahwa pelecehan seksual dan kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja. Perlu perhatian bersama agar masalah yang selama ini kerap kali disepelekan masyarakat, tak terulang kembali.

"Mungkin harus juga menjadi concern terutama untuk masyarakat, bahwasanya permasalahan yang sedang marak ini (sexual harassment), ini bukan masalah yang sepele," kata T.

Kini T tengah berkoordinasi dengan dekanat FIB Unair dan pihak Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya untuk melaporkan kejadian yang ia alami.

Kasus Gilang yang melecehkan korbannya dengan bungkus jarik melilit badan itu terdeteksi setelah salah satu korban, MF, mengungkapnya ke publik. Berbeda dengan T, MF mengalami pelecehan bungkus jarik itu yang dilakukan Gilang secara virtual.

MF yang belakangan baru menyadari itu pelecehan mengaku Gilang awalnya meminta tolong bantuan untuk riset akademis dirinya.

MF mengaku dirinya sengaja mengungkap itu ke publik agar tak ada korban lain. Setelah diungkap itulah, sambungnya, baru diketahui ternyata dia bukan satu-satunya korban perbuatan Gilang.

Sementara itu, Fakultas Ilmu Budaya Unair yang menjadi tempat Gilang terdaftar sebagai mahasiswa tengah mengatur mekanisme sidang komite etik ecara daring. Sidang daring itu rencananya digelar Senin (3/8).

Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair, Suko Widodo, menyebut akan ada tindakan tegas kepada Gilang karena sudah menyalahi etika mahasiwa. Pihak kampus Unair sendiri saat ini mengetahui lokasi Gilang berada di Kalimantan sejak Maret lalu.

Sejak 30 Juli lalu, telah mencoba menghubungi Gilang melalui pesan lewat akun media sosialnya. Namun, hingga kini belum mendapat respons. Nomor telepon yang diketahui sebagai milik Gilang juga tidak aktif. Dilansir dari cnn indonesia (*/wan)
/>
 
Top
/* Pengunci navbar*/