BREAKING NEWS

17 September 2020

PSBB vs PSBM, Bagaimana dalam Pandangan Islam?

Oleh: Silmi Dhiyaulhaq, S.Pd
Praktisi Pendidikan
Sudah enam bulan virus corona mewabah di Indonesia dan belum ada tanda-tanda kondisi ini akan berakhir. Melihat kondisi ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan kembali menerapkan pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai 14 September 2020. (kompas.com, 11/9/2020). 

Kebijakan Anies ini langsung direspons sejumlah Menteri.  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pengumuman PSBB DKI Jakarta menyebabkan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Selanjutnya, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menilai pemberlakukan PSBB bisa berpotensi mengganggu kelancaran distribusi barang, apalagi mengingat peran Jakarta dalam aliran distribusi nasional (money.kompas.com, 13/9/2020). 

Menteri Sosial pun turut mengkitik kebijakan Anies. Menurut Menteri Sosial Juliari P. Batubara, munculnya kebutuhan penanganan terhadap masyarakat yang terdampak dalam bentuk bantuan sosial, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Intinya kebijakan PSBB ini dianggap terlalu mendadak sementara untuk Bansos Kementerian sosial harus berkoordinasi dan berdasarkan arahan dari pusat (news.detik.com, 13/9/2020).

Selain jajaran menteri, kritik datang dari Budi Hartono yang merupakan orang terkaya RI versi Forbes dengan kekayaan Rp 277,83 triliun. Ia berani menulis surat kepada Presiden Joko Widodo. Dalam suratnya kepada Presiden RI Joko Widodo, pemilik Djarum Group ini mengutarakan ketidaksetujuannya, karena menurutnya memberlakukan PSBB bukan langkah yang tepat. Adanya surat ini langsung direspon oleh ahli hukum tata negara, Refly Harun.

Refly menilai bahwa sikap orang terkaya di Indonesia itu kurang patut dilakukan oleh seorang pebisnis kepada pejabat publik. Menurut Refly, yang dilakukan Budi Hartono dengan mengirim surat ke presiden menimbulkan pertanyaan besar bagi masyarakat Indonesia. Ia lantas mencurigai ada hubungan tertentu antara Bos Djarum itu dengan Presiden Jokowi (suara.com, 14/9/2020).

Berbeda dengan Jakarta yang menerapkan PSBB dan menuai banyak kritik, Surabaya berdasarkan keputusan Gubernur Jatim Khofifah hanya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM). Khofifah mencontohkan, PSBM atau juga disebut mikro lockdown atau karantina lokal telah dilakukan di Magetan, ini yang diterapkan di lingkungan Pondok Pesantren Temboro.

PSBM dilakukan secara ketat dengan mengunci pintu keluar masuk desa, testing massif dan karantina total selama 14 hari. PSBM menurutnya efektif, karena sampai hari ini sudah tidak ada penyebaran kasus COVID-19 baru dari area itu. Saat ini, kata dia, PSBM di Jatim juga dilakukan di sejumlah zona merah baru akibat adanya kluster baru. Seperti di Lapas Porong dan Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung, Banyuwangi (Surabaya.Liputan6.com, 13/9/2020).

Adanya sikap yang berbeda antara kepala daerah dengan pemerintah pusat memang sangat disayangkan. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini dimana korban corona di Indonesia per (16/9) sudah mencapai 229 ribu kasus, 9.100 orang di antaranya meninggal dunia, termasuk 115 dokter. Jumlah korban per harinya bertambah tinggi dan mengkhawatirkan. 

Jika dulu di masa kebijakan PSBB jilid 1 penambahan kasus berkisar 400-500 kasus per hari, setelah kebijakan relaksasi dan new normal, kasus positif Corona bertambah antara 1.000-3.000 kasus per hari. Jumlah korban yang tidak sedikit dan tidak boleh dipandang remeh. 

PSBB dalam Pandangan Islam
Dalam sejarah, wabah penyakit menular sudah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan mematikan dan belum ada obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasul memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut.  

Dengan demikian, metode karantina telah diterapkan sejak zaman Rasulullah untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul membangun tembok di sekitar daerah wabah.

Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. 

Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).
Dari hadits tersebut maka negara yang berdasarkan Islam akan menerapkan kebijakan karantina dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular. 

Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Selama isolasi, diberikan petugas medis yang mumpuni dan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada penderita. 

Petugas isolasi diberikan pengamanan khusus agar tidak ikut tertular. Pemerintah pusat pun tetap memberikan pasokan bahan makanan kepada masyarakat yang terisolasi. Masyarakat tidak boleh sampai mengalami kelaparan. 

Memang mengelola sebuah negara membutuhkan kepemimpinan amanah. Ia harus memiliki karakter negarawan sejati. Bukan kepala negara yang mudah terbawa arus oligarki dan kepentingan kapitalis. Akibat salah urus, negara jadi terjerumus. Orang tak berpengalaman diberi jabatan. 

Yang tak kompeten diberi kekuasaan. Sabda Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya, “Bagaimana maksud amanah disia-siakan?” Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari)
Dalam Islam, pemimpin memiliki tanggung jawab mengurus kebutuhan rakyat dan menjamin keperluan mereka. 

Hal ini sangat disadari oleh seorang pemimpin sehingga amanah kepemimpinan ini dijalankan dengan sebaik-baiknya. Ia sadar bahwa amanah ini merupakan tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Selain karakter pemimpin yang merupakan negarawan sejati, Islam pun punya aturan yang lengkap dalam menyelesaikan pandemi.  

Islam sudah memiliki solusi preventif dan kuratif dalam menangani pandemi. Dalam aspek preventif, Islam mengajarkan pola hidup sehat dan bersih. Layanan kesehatan diberikan secara gratis oleh negara. Pada aspek kuratif, karantina wilayah akan menjadi pilihan utama. Bukan lockdown total. Islam akan memetakan mana wilayah terdampak wabah dan mana yang tidak. 

Perlakuannya tentu berbeda. Ekonomi harus tetap berjalan di wilayah yang tidak terdampak. Sementara di wilayah terdampak, negara akan menjamin sepenuhnya kebutuhan masyarakat. Sebab, kegiatan ekonomi tentu terganggu akibat pandemi. Begitulah Islam memberi solusi. Pemimpin amanah hanya lahir dari sistem yang amanah pula. Hanya sistem Islam yang mampu memberikan solusi fundamental atas segala persoalan kehidupan. 

Islam Menginspirasi Negara Menciptakan Vaksin Islam memasukkan konsep Qadar sebagai salah satu yang harus diyakini. Allah telah tetapkan terkait gen, mekanisme mutasi, dampak fisiologi sebuah virus tertentu. Dari situ, kita tahu bagaimana mekanisme penyakit. 

Contohnya, identifikasi terhadap kuman Mycobacterium sebagai penyebab TBC yang menyerang paru, dan kita bisa pelajari antibiotik untuk mengobatinya dan juga mengenali mutasi kuman Mycobacterium TB sehingga bisa menjadi resisten. Ukuran-ukuran ini yang bisa dipelajari dan digunakan untuk memprediksi resiko penyakit. Dan dari situ dapat diteliti obat/ vaksinasinya.

Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi Pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis di jaman Abbasiyah. Sebagai muslim kita harus waspada dan optimis sekaligus. 

Waspada, bahwa virus corona ini bisa juga menyebar ke negeri-negeri muslim yang lambat mengantisipasi. Namun juga optimis bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya. Negara akan mengintensifkan upaya menemukan vaksin Corona, agar pandemi bisa ditangani secara total hingga wabah tidak ada lagi. 

Wallahu’alam bishshawab

Share this:

Peristiwa

Parlemen

Pendidikan

Kuliner

Hiburan

Olahraga

Lifestyle

Pariwisata

 
Copyright © 2014 KUPASONLINE.COM. Designed by OddThemes
Redaksi Disclaimer Kode Etik Jurnalistik Pedoman Media Siber